Hari Gajah Sedunia, Momentum Perkuat Upaya Pelestarian Gajah Sumatera
- 15 Agt 2026 19:15 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Hari Gajah Sedunia menjadi momentum memperkuat pelestarian Gajah Sumatera, terutama karena Sumatera Selatan memiliki sekitar 30 persen populasi Gajah Sumatera di Indonesia, dengan sekitar 240 individu yang tersebar di enam kantong habitat.
- Habitat dan populasi Gajah Sumatera menghadapi ancaman degradasi serta fragmentasi habitat, yang dapat meningkatkan potensi interaksi negatif antara gajah dan manusia serta berdampak pada keberagaman genetik populasi.
- Kolaborasi menjadi kunci konservasi Gajah Sumatera, melibatkan pemerintah, masyarakat, perusahaan, aparat keamanan, akademisi, dan komunitas, termasuk melalui perlindungan koridor ekologis dan penyediaan sumber pakan.
RRI.CO.ID, Palembang – Keberadaan Gajah Sumatera di Sumatera Selatan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari degradasi dan fragmentasi habitat hingga potensi konflik dengan manusia. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam momentum Hari Gajah Sedunia yang diperingati setiap 12 Agustus.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, Daniwari Widiyanto, mengatakan, Sumatera Selatan memiliki posisi strategis dalam upaya pelestarian Gajah Sumatera. Sekitar 30 persen populasi Gajah Sumatera di Indonesia berada di provinsi ini, dengan total populasi sekitar 240 individu yang tersebar di enam kantong habitat.
“Sumatera Selatan sendiri punya posisi yang sangat penting, strategis untuk turut serta berkontribusi dalam pelestarian Gajah Sumatera,” ujar Daniwari dalam Dialog Interaktif Palembang Menyapa Pro 1 RRI Palembang, Kamis, 13 Agustus 2026.
Enam kantong habitat tersebut meliputi Sugihan-Simpang Heran, Benakat Semangus, Saka Gunung Raya, Lalan-Sembilang, Meranti Dangku-Meranti Harapan, serta Mesuji. Dari enam kantong tersebut, Sugihan-Simpang Heran menjadi kawasan dengan habitat sekaligus populasi gajah terbesar, dengan luas habitat sekitar 630 ribu hektare dan populasi sekitar 142 individu.
Daniwari menjelaskan, interaksi negatif antara manusia dan gajah umumnya terjadi ketika wilayah jelajah satwa tersebut beririsan dengan aktivitas masyarakat, termasuk lahan perkebunan dan permukiman. Karena itu, menurutnya, upaya mitigasi perlu dilakukan dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, perusahaan, aparat keamanan, hingga kelompok konservasi.
Sementara itu, Peneliti Gajah Sumatera di Sumatera Selatan, Winda Indriati, menegaskan bahwa perlindungan gajah tidak dapat dipisahkan dari perlindungan ekosistem. Gajah memiliki peran penting sebagai penyebar benih dan pembentuk ekosistem hutan.
“Gajah ini dikenal juga sebagai petani hutan yang menyebar benih dan akan tumbuh sebagai vegetasi tutupan lahan di ekosistem. Jadi walaupun kita berfokus pada melindungi gajahnya, kita juga sedang melindungi satu landscape ekosistem secara utuh,” jelas Winda.
Winda menyebut salah satu ancaman paling mengkhawatirkan saat ini adalah fragmentasi dan degradasi habitat. Kondisi tersebut dapat memisahkan populasi gajah ke dalam kantong-kantong kecil sehingga berpotensi mengurangi pertukaran genetik dan meningkatkan risiko perkawinan sedarah atau inbreeding.
Menurut Winda, pembangunan koridor ekologis menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk menghubungkan kembali kantong-kantong habitat yang terfragmentasi. Selain itu, penyediaan sumber pakan di sepanjang jalur jelajah serta pelibatan masyarakat dalam pemantauan juga diperlukan untuk menciptakan ruang hidup yang lebih aman bagi gajah maupun manusia.
Dari kalangan generasi muda, Ketua Community of Conservation (COC) Universitas Sriwijaya 2026, Shifa Auliya Annisa, menilai keterlibatan anak muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan konservasi. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya menjadi penerima edukasi, tetapi perlu dilibatkan langsung dalam aksi konservasi.
“Jadi bukan hanya mereka yang hanya diberikan edukasi, tetapi mereka juga ikut serta dalam aksi konservasi tersebut. Mereka bukan sebagai objek dari penerima aturan, tetapi harus ikut andil juga dalam isu konservasi,” kata Shifa.
Shifa mengatakan COC UNSRI turut melakukan kampanye dan edukasi mengenai konservasi melalui ruang publik dan media sosial. Ia juga mendorong semakin banyak anak muda untuk terlibat dalam kegiatan lapangan sehingga pemahaman mengenai kondisi habitat dan perilaku satwa dapat diperoleh secara langsung.
Dalam menghadapi potensi perjumpaan antara gajah dan manusia, BKSDA Sumatera Selatan mengimbau masyarakat agar tidak panik, tidak mendekati atau memberikan makanan kepada gajah, serta tidak berupaya mengusir satwa tersebut secara mandiri. Masyarakat diminta segera melaporkan keberadaan gajah kepada petugas atau melalui saluran komunikasi BKSDA agar dapat ditangani oleh tim yang memiliki kapasitas.
Daniwari menegaskan, konservasi Gajah Sumatera membutuhkan kolaborasi seluruh pihak. “Mari sama-sama kita berkontribusi untuk pelestarian gajah dan habitatnya sesuai dengan kemampuan dan kewenangan masing-masing,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....