Densus 88 Ingatkan Orang Tua Awasi Aktivitas Digital Anak

  • 12 Agt 2026 13:00 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Orang tua diminta lebih aktif mengawasi aktivitas anak saat menggunakan media sosial dan perangkat digital karena telah menjadi bagian dari keseharian anak dan remaja.
  • Tim Pencegahan Satgaswil Sumatera Selatan Densus 88 AT Polri menekankan pengawasan harus dilakukan dengan pendekatan yang tepat, bukan sekadar larangan.
  • Orang tua perlu memahami aktivitas anak di dalam gawai dan media sosial sebelum mengambil tindakan pembatasan penggunaan.

RRI.CO.ID, Palembang - Orang tua diminta lebih aktif mengawasi aktivitas anak saat menggunakan media sosial dan perangkat digital. Hal ini penting karena media sosial kini menjadi bagian dari keseharian anak dan remaja.

Tim Pencegahan Satgaswil Sumatera Selatan Densus 88 AT Polri, Muhammad Alfatih, mengatakan, pengawasan perlu dilakukan dengan pendekatan yang tepat. Menurutnya, orang tua jangan hanya melarang anak menggunakan gawai tanpa memahami aktivitas mereka di dalamnya.

Alfatih menjelaskan, anak yang sedang menghadapi masalah bisa mencari tempat bercerita melalui media sosial. Ketika tidak mendapat pendampingan, mereka berpotensi menemukan informasi yang belum tentu sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

“Orang tua harus aware dengan anaknya,” kata Alfatih dalam program Moderasi Beragama PRO 1 RRI Palembang, Selasa, 11 Agustus 2026. Ia juga mengingatkan pentingnya membangun kedekatan agar anak tidak takut menceritakan persoalannya kepada keluarga.

Untuk memudahkan orang tua melakukan pengawasan, Alfatih memperkenalkan prinsip “ABA”, yakni awasi, batasi, dan arahkan. Ketiga langkah tersebut dapat diterapkan dalam keseharian tanpa membuat anak merasa terus dicurigai.

Pengawasan dapat dilakukan dengan mengetahui aplikasi dan grup percakapan yang diikuti anak. Sementara itu, penggunaan gawai juga perlu dibatasi agar anak tetap memiliki waktu untuk berinteraksi dengan keluarga.

Alfatih menilai, komunikasi menjadi bagian penting dalam mendampingi anak menghadapi berbagai persoalan. Orang tua disarankan mengajak anak berdiskusi tanpa langsung memarahi atau menyalahkan ketika menemukan sesuatu yang tidak sesuai.

"Anak yang merasa didengar akan lebih terbuka ketika menghadapi masalah di sekolah maupun lingkungan pergaulannya. Kondisi tersebut dapat membantu orang tua mengetahui perubahan perilaku anak sejak lebih awal," jelasnya.

Ia juga mengingatkan, kemampuan menggunakan teknologi tidak otomatis membuat anak mampu menyaring seluruh informasi. Karena itu, literasi digital dan pendampingan keluarga tetap dibutuhkan agar anak dapat mengenali konten yang berisiko.

Densus 88 berharap keluarga dapat menjadikan rumah sebagai tempat pertama bagi anak untuk bercerita. Dengan komunikasi yang terjaga, orang tua dapat membantu anak menghadapi pengaruh negatif yang muncul dari lingkungan digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....