Densus 88 Ungkap 10 Anak Sumsel Terpapar Radikalisme
- 12 Agt 2026 10:45 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Densus 88 Antiteror Polri mengungkap 10 anak di Sumatera Selatan yang pernah masuk grup WhatsApp berisi konten radikal, dengan 6 anak berada di Palembang.
- Anak-anak tersebut masih berstatus korban dan hanya berperan sebagai pembaca atau silent reader dalam grup radikal tanpa melakukan aktivitas ekstremis.
- Tim Pencegahan Satgaswil Sumsel Densus 88 AT Polri terus melakukan upaya pencegahan radikalisme di kalangan anak-anak melalui identifikasi dini anggota grup ekstremis.
RRI.CO.ID, Palembang - Densus 88 Antiteror Polri mengungkap 10 anak di Sumatera Selatan sempat masuk grup WhatsApp radikal. Enam anak di antaranya berada di Palembang, sedangkan empat lainnya tersebar di beberapa daerah.
Tim Pencegahan Satgaswil Sumsel Densus 88 AT Polri, Muhammad Alfatih mengatakan, anak-anak tersebut masih berstatus korban. Mereka diketahui hanya menjadi pembaca atau silent reader dalam grup yang berisi konten radikal.
"Anak dan remaja termasuk kelompok yang cukup rentan terhadap paparan paham ekstremisme. Usia tersebut merupakan masa pencarian jati diri dan membuat mereka mudah mencari berbagai informasi di media sosial," hal tersebut disampaikannya dalam dialog Moderasi Beragama Pro 1 RRI Palembang, Selasa, 11 Agustus 2026.
Kondisi tersebut bisa semakin rentan ketika anak mengalami perundungan atau merasa tidak memiliki tempat bercerita. Situasi itu dapat membuat mereka mencari pelampiasan dan jawaban melalui berbagai konten di internet.
Alfatih menambahkan, anak-anak tersebut kemudian dapat diarahkan masuk ke grup percakapan tertentu. Di dalam grup tersebut, mereka berpotensi menerima konten kekerasan secara terus menerus.
Densus 88 melakukan pendampingan terhadap anak-anak tersebut dengan melibatkan sejumlah pihak terkait. Identitas anak, termasuk sekolahnya, dijaga agar mereka tidak mendapat stigma dari lingkungan sekitar.
"Pendampingan juga melibatkan pihak perlindungan perempuan dan anak, sekolah, serta psikolog klinis. Pendekatan tersebut dilakukan untuk membantu anak sekaligus memastikan proses pemulihan berjalan tanpa memberikan tekanan," tambahnya.
Alfatih mengingatkan orang tua untuk lebih memperhatikan aktivitas anak, termasuk pergaulannya di dunia digital. Ia menyarankan orang tua menerapkan prinsip “ABA”, yaitu awasi, batasi, dan arahkan.
Menurutnya, komunikasi yang terbuka dapat membuat anak lebih nyaman menceritakan masalah yang sedang dihadapi. Orang tua juga diharapkan tidak langsung menghakimi ketika menemukan perubahan sikap pada anak.
Selain keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat juga dinilai memiliki peran dalam mencegah paparan ekstremisme. Penguatan toleransi dan nilai kebangsaan dapat dilakukan melalui dialog serta kegiatan bersama di lingkungan masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....