Strategi Buka-Tutup Hingga Tol Darurat Cegah Macet Palembang-Betung
- 11 Agt 2026 08:20 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Perbaikan jalan Lintas Timur Palembang–Betung menggunakan beton khusus yang mengering dalam 24 jam untuk menahan beban truk bertonase besar sekaligus memangkas penutupan jalan.
- Demi mencegah kemacetan parah, pengerjaan fisik hanya dilakukan malam hari secara zigzag dengan ritme dua hari kerja dan dua hari istirahat untuk mengurai penumpukan kendaraan.
- PJN I Sumsel telah mengantongi izin BPJT untuk mengalihkan arus lalu lintas ke jalur Tol Palembang–Betung secara situasional jika terjadi kemacetan ekstrem di jalur utama pengerjaan.
RRI.CO.ID, Palembang - Jalur Lintas Timur Palembang–Betung dikenal sebagai salah satu urat nadi logistik tersibuk di Sumatra. Beban kendaraan berat yang melintas tanpa henti selama 24 jam membuat permukaan aspal kerap bergelombang dan rusak parah (rutting). Namun, melakukan perbaikan di jalur 'gemuk' ini ibarat memakan buah simalakama: jika salah langkah, kemacetan panjang berjam-jam siap mengintai para pengguna jalan.
Menyadari risiko tersebut, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumsel merancang strategi khusus untuk memperbaiki kerusakan badan jalan tanpa melumpuhkan arus kendaraan.
Kepala Satker PJN I Sumsel, Alfredo Lukman, melalui PPK 1.5, Teuku Zulhadi, mengungkapkan, kunci dari perbaikan sepanjang 600 meter di kawasan KM 17 ini ada pada pemilihan material dan pengaturan waktu pengerjaan. Pihaknya memilih metode beton cepat keras (rigid fast track) yang hanya membutuhkan waktu 24 jam untuk pengeringan sebelum siap dilintasi kendaraan kembali.
"Perkerasan fast track ini 24 jam bisa langsung dilintasi. Kenapa pakai beton ini? Karena Lintas Timur Sumatra ini lalu lintasnya sangat padat, kendaraan truk kapasitas berlebih nonstop lewat. Kalau pakai aspal cepat rusak, sementara pakai beton biasa pengeringannya memakan waktu lama dan bisa bikin macet parah," ujar Zulhadi saat diwawancarai di KM 17 Palembang–Betung, Senin, 10 Agustus 2026.

Tak sekadar mengandalkan material canggih, alur pengerjaan fisik di lapangan juga diatur dengan ritme ketat. Pengecoran hanya dilakukan pada malam hari dengan sistem zigzag atau spot-spot, yakni membagi pengerjaan per 200 meter di sisi awal dan akhir jalan.
"Metodenya bukan sekaligus, tapi spot-spot. Saat ini sisi awal sudah 200 meter penuh, sisi akhir dari arah Palembang baru 200 meter di sisi kanan," detailnya.
Guna memastikan napas lalu lintas tetap mengalir, PJN I Sumsel menerapkan pola pengerjaan "dua hari kerja, dua hari jeda". Pola selang-seling ini sengaja dipakai untuk memberikan jeda waktu bagi petugas mengurai antrean kendaraan sebelum pengecoran tahap berikutnya dimulai.
Bahkan, guna mengantisipasi lonjakan arus kendaraan menuju Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) awal pekan ini, tim lapangan mengalihkan prioritas pengecoran ke area bahu jalan terlebih dahulu.
"Jangan sampai pekerjaan terhenti dan kita kehilangan waktu. Pengecoran kita fokuskan ke bahu jalan dulu agar badan jalan utama tetap bisa dilalui optimal," tutur Zulhadi.

Apabila pengerjaan bergeser ke badan jalan utama dan rekayasa buka-tutup tak lagi menampung tingginya volume kendaraan, PJN I Sumsel sudah mengantongi solusi pemecah kemacetan. Jalur Tol Palembang–Betung siap difungsikan secara darurat dan situasional.
"Alhamdulillah kami sudah berkoordinasi dan mendapat izin langsung dari Kepala Balai Pelaksana Jalan Tol. Saat situasi sangat padat, lalu lintas bisa kita alihkan masuk ke ruas tol untuk mengurai kemacetan," terangnya.
Kerja sama lintas sektoral bersama Dinas Perhubungan Banyuasin dan Kepolisian juga dikerahkan secara intensif, mulai dari penempatan personel di lapangan hingga sosialisasi titik rawan di media sosial. Secara keseluruhan, paket pekerjaan infrastruktur ini termasuk penggantian Jembatan Buluh Dabuk dan box culvert KM 13 telah menyentuh angka 75 persen dan ditargetkan rampung sepenuhnya pada akhir Agustus.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....