BPS Sumsel Catat Deflasi Sebesar 0,04 Persen Secara Bulanan

  • 05 Mei 2026 16:43 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan mencatat deflasi sebesar 0,04 persen secara bulanan (month to month) pada April 2026. Kondisi ini berbanding terbalik dengan nasional yang mengalami inflasi sebesar 0,13 persen.

Kepala BPS Sumatera Selatan, Moh Wahyu Yulianto, menjelaskan bahwa deflasi dipicu oleh penurunan harga sejumlah komoditas utama. Angka ini menunjukkan tekanan harga yang relatif rendah dibandingkan dengan nasional yang sebesar 0,13 persen secara bulanan.

Dari total 11 kelompok pengeluaran, penurunan paling kuat berasal dari bahan makanan dan perawatan pribadi. Salah satu komoditas yang turut memengaruhi adalah emas perhiasan.

Sementara itu, beberapa kelompok lain seperti pakaian, perumahan, dan transportasi justru mengalami kenaikan. Kenaikan ini mencerminkan adanya tekanan biaya pada sektor non-pangan.

"Memang tarikan cukup kuat untuk kelompok bahan makanan dan juga perawatan, jasa yang salah satu komoditasnya adalah emas periasa. Sementara untuk kelompok lainnya, pakaian jadi, perumahan, perlengkapan, kesehatan, transportasi ini naik," ujar Wahyu Yulianto, Senin 4 Mei 2026.

Tren inflasi yang terjadi sejak Januari hingga Maret sebelumnya menunjukkan pola berkelanjutan. Namun, secara umum tren tersebut mulai mengalami penurunan setelah kenaikan berturut-turut.

Kenaikan harga bahan bakar minyak, khususnya jenis berkualitas tinggi, menjadi salah satu pemicu inflasi. Dampaknya lebih terasa pada komoditas industri dibandingkan kebutuhan pokok.

Dari sekitar 425 komoditas yang diamati, sebanyak 190 mengalami kenaikan harga. Namun, 78 komoditas justru mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Penurunan harga terjadi pada komoditas yang banyak dikonsumsi masyarakat seperti daging ayam, telur, dan cabai rawit. Hal ini membuat tekanan inflasi tertahan meskipun ada kenaikan di sektor lain.

Secara keseluruhan, penurunan harga pangan memberikan kontribusi lebih besar terhadap deflasi. Kondisi ini menjadi faktor utama yang menyeimbangkan dampak kenaikan harga industri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....