Sensasi Berburu 'BJ' di Bawah Ampera: Zara Rp15 Ribu, H&M Rp5 Ribu
- 18 Jul 2026 19:15 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Kawasan bawah Jembatan Ampera di Palembang tetap menjadi sentra penjualan baju bekas yang ramai dikunjungi masyarakat meskipun banyak brand lokal modern bermunculan.
- Lapak baju bekas di Jalan Sultan Mahmud Badaruddin II menawarkan berbagai jenis pakaian dengan harga sangat terjangkau mulai dari Rp3 ribu per item.
- Terdapat lebih dari 10 lapak yang menjual beragam jenis pakaian seperti kaos, blouse, kemeja, celana jeans, jaket, topi, dan sepatu dengan harga jauh lebih murah dibandingkan pakaian baru.
RRI.CO.ID, Palembang - Di tengah menjamurnya berbagai brand lokal yang menawarkan pakaian dengan harga terjangkau, baju bekas (BJ) di kawasan bawah Jembatan Ampera, Kota Palembang, masih menjadi pilihan masyarakat. Deretan lapak sederhana di Jalan Sultan Mahmud Badaruddin II, Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, tetap ramai dikunjungi pembeli yang berburu pakaian layak pakai dengan harga mulai Rp3 ribu.
Kawasan tersebut menjadi salah satu sentra penjualan baju bekas yang telah lama dikenal warga. Terdapat lebih dari 10 lapak yang menjual beragam jenis pakaian, seperti kaos, blouse, kemeja, celana jeans, jaket, topi hingga sepatu dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan pakaian baru.
Harga pakaian yang ditawarkan berkisar antara Rp3 ribu hingga Rp50 ribu per potong. Sementara itu, sepatu bermerek dijual mulai Rp100 ribu hingga sekitar Rp300 ribu. Ragam pilihan dan harga yang terjangkau membuat kawasan ini tetap diminati berbagai kalangan.
Salah seorang pedagang, Surhati (28), mengatakan kawasan bawah Jembatan Ampera sudah lama dikenal masyarakat sebagai pusat penjualan baju bekas. Ia yang mulai berjualan sejak 2022 mengaku pembeli tidak pernah sepi, terutama pada akhir pekan.
"Orang sudah tahu kalau mau cari BJ ya datang ke sini. Tempatnya memang sederhana, tapi strategis karena kawasan ini memang sudah dikenal sebagai tempat jual baju BJ. Kami mengambil barang dari agen bal di Bandung, lalu memilih lagi pakaian yang masih bagus untuk dijual. Harga di sini mulai dari Rp3 ribu sampai Rp50 ribu, jadi masih sangat terjangkau," ujar Surhati. Sabtu, 18 Juli 2026.
Menurut Surhati, pembeli berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga ibu rumah tangga. Minat terhadap baju bekas tetap tinggi karena kualitasnya masih layak pakai dan tidak sedikit pembeli yang menemukan pakaian bermerek dengan harga yang jauh lebih murah.
Ia menyebut penjualan bisa mencapai sekitar 50 potong pakaian dalam sehari saat akhir pekan. Sebaliknya, pada hari biasa ketika pengunjung sepi, jumlah penjualan hanya berkisar lima potong.
"Rp100 ribu saja kadang sudah bisa dapat tujuh sampai delapan potong pakaian. Hari Minggu biasanya paling ramai karena banyak pembeli sengaja datang berburu baju bagus dengan harga murah," katanya.
Selain warga Palembang, lapak-lapak baju bekas di bawah Jembatan Ampera juga sering didatangi pembeli dari luar daerah, seperti Prabumulih, Baturaja, hingga Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Hal itu menunjukkan kawasan tersebut masih menjadi salah satu tujuan belanja pakaian bekas di Sumatera Selatan.
Salah seorang pembeli, Yolan (22) warga Lemabang, mengaku rutin berbelanja di kawasan tersebut sejak awal kuliah. Menurutnya, harga yang murah serta peluang mendapatkan pakaian bermerek menjadi alasan utama dirinya tetap memilih baju bekas.
"Saya sering beli baju di sini karena murah dan kualitasnya masih bagus. Pernah dapat baju merek Pull & Bear Rp30 ribu, Zara Rp15 ribu, H&M Rp5 ribu, sampai Uniqlo Rp25 ribu. Tinggal dicuci, bajunya masih sangat layak dipakai untuk kuliah maupun nongkrong," ujarnya. Yolan menilai sensasi berburu pakaian berkualitas dengan harga murah menjadi daya tarik tersendiri yang tidak dimiliki toko pakaian biasa.
Sementara itu, para pedagang berharap kawasan BJ bawah Jembatan Ampera tetap menjadi destinasi belanja favorit masyarakat sekaligus mampu terus menopang perekonomian para pelaku usaha yang menggantungkan mata pencaharian dari penjualan baju bekas.
Laporan: Wulan Permata Sari, Mahasiswa magang RRI Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....