Merusak, Vandalisme di Palembang Tidak Memiliki Nilai Sosial

  • 11 Jul 2026 08:47 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Akademisi Unsri menilai vandalisme di Palembang lebih merupakan kenakalan remaja daripada bentuk kritik sosial.
  • Patroli dan penindakan dinilai penting, tetapi perlu diimbangi edukasi, sosialisasi, dan pembinaan kepada remaja serta orang tua.
  • Pencegahan vandalisme harus menyasar akar masalah, termasuk pengaruh lingkungan pergaulan dan penyaluran kreativitas remaja ke kegiatan positif.

RRI.CO.ID, Palembang - Fenomena aksi vandalisme yang masih terjadi di sejumlah fasilitas umum Kota Palembang mendapat sorotan dari akademisi. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sriwijaya (Unsri), Januar Eko Aryansyah, menilai aksi tersebut lebih mengarah pada bentuk kenakalan remaja dibandingkan sebagai bentuk penyampaian kritik sosial.

Eko menjelaskan, secara definisi vandalisme merupakan tindakan merusak fasilitas atau benda milik umum tanpa tujuan memperoleh keuntungan bagi pelakunya. "Kalau dilihat dari definisinya, vandalisme itu tindakan merusak tanpa maksud mendapatkan keuntungan. Misalnya akses di jembatan atau halte dirusak begitu saja, tetapi tidak ada keuntungan yang didapat dari pihak pelaku," ujar Eko dalam Dialog Palembang Menyapa RRI, Kamis 9 Juli 2026.

Menurutnya, vandalisme memang dapat menjadi salah satu bentuk ekspresi kekesalan atau kritik terhadap kondisi sosial tertentu. Namun, berdasarkan fenomena yang terjadi di Palembang, aksi tersebut lebih banyak ditemukan dalam bentuk coretan yang tidak memiliki nilai pesan sosial.

"Kalau yang terjadi di Palembang ini lebih identik hanya untuk merusak. Misalnya menulis atau menggambar sesuatu yang tidak pantas di fasilitas umum maupun toilet umum," katanya.

Eko menilai, upaya penindakan dan patroli yang dilakukan pemerintah sudah menjadi langkah positif. Namun, pengawasan tidak dapat dilakukan di seluruh lokasi sehingga perlu adanya pendekatan lain untuk mengatasi akar permasalahan.

"Penindakan dari Satpol PP maupun patroli sudah bagus, tetapi tentu tidak bisa menjangkau semuanya. Perlu ada pendekatan sosial, seperti sosialisasi kepada masyarakat dan orang tua," jelasnya.

Ia menduga, pelaku vandalisme yang terjadi saat ini mayoritas berasal dari kelompok remaja yang ingin menunjukkan eksistensi atau jati diri di lingkungan pergaulannya. "Kalau ekspresinya sebagai bentuk kontrol sosial, biasanya akan menghasilkan karya seni yang memberikan refleksi terhadap kondisi sosial. Tetapi kalau hanya mencoret dengan gambar atau tulisan yang tidak pantas, itu bukan kritik sosial, justru memperburuk pandangan terhadap fasilitas umum," ungkap Eko.

Menurutnya, pemerintah perlu melakukan identifikasi terhadap kelompok-kelompok yang berpotensi melakukan aksi vandalisme serta memberikan pendekatan melalui edukasi dan penyuluhan sosial. Ia menilai, lingkungan pergaulan juga memiliki pengaruh besar terhadap perilaku tersebut.

Dalam kelompok tertentu, aksi vandalisme dapat dilakukan sebagai bentuk solidaritas atau mengikuti tindakan teman. "Ketika salah satu anggota kelompok melakukan aksi tersebut, anggota lainnya terkadang ikut karena merasa sebagai bentuk kesetiaan dalam kelompoknya," tambahnya.

Eko berharap, penanganan vandalisme tidak hanya berfokus pada pemberian sanksi, tetapi juga menyentuh aspek pencegahan melalui pembinaan sosial agar remaja dapat menyalurkan kreativitasnya melalui kegiatan yang lebih positif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....