Inflasi Sumsel Capai 0,36 Persen, Pasokan Pangan Jadi Penopang
- 02 Jul 2026 23:37 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Inflasi Sumatera Selatan pada Juni 2026 tercatat 0,36 persen (bulanan) dan 2,89 persen (tahunan), lebih rendah dari inflasi nasional sehingga menjadi salah satu provinsi dengan inflasi terendah di Indonesia.
- Inflasi dipengaruhi kenaikan harga BBM, biaya transportasi, dan pengeluaran menjelang tahun ajaran baru, namun stabilnya pasokan pangan serta menurunnya permintaan dari Program Makan Bergizi Gratis membantu menekan laju inflasi.
- Ekspor Sumatera Selatan masih melemah akibat penurunan ekspor batu bara, tetapi kenaikan harga karet di pasar dunia meningkatkan nilai ekspor karet dan berpotensi menambah pendapatan petani.
RRI.CO.ID, Palembang - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Selatan mencatat inflasi sebesar 0,36 persen secara bulanan (month to month) pada Juni 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi Mei 2026 yang mencapai sekitar 0,60 persen, sehingga menunjukkan kondisi harga yang relatif terkendali di wilayah tersebut.
Secara tahunan (year on year), inflasi Sumatera Selatan tercatat sebesar 2,89 persen. Capaian itu berada di bawah inflasi nasional yang mencapai 3,44 persen dan menempatkan Sumatera Selatan sebagai salah satu provinsi dengan tingkat inflasi terendah di Indonesia.
Kepala BPS Sumatera Selatan, Moh Wahyu Yulianto, mengatakan pergerakan inflasi masih dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain penyesuaian harga bahan bakar minyak, khususnya solar non-subsidi dan Pertamax, serta dampak kondisi iklim yang memengaruhi beberapa komoditas pangan.
"Inflasi di Sumatera Selatan masih dalam kondisi terkendali. Beberapa faktor eksternal tetap memberikan pengaruh, namun pasokan bahan pangan yang memadai mampu menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen," ujarnya, Rabu, 1 Juli 2026.
Menurut Wahyu, ketersediaan pasokan pangan dalam beberapa pekan terakhir berhasil menahan tekanan inflasi. Kondisi tersebut menyebabkan harga sejumlah komoditas, seperti daging ayam ras dan telur ayam ras, mengalami penurunan karena pasokan yang mencukupi di tengah permintaan yang relatif melandai.
Ia menambahkan, berkurangnya kebutuhan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memengaruhi dinamika permintaan pangan. Meskipun belum dihitung secara khusus, kondisi tersebut dinilai berkontribusi terhadap keseimbangan antara pasokan dan konsumsi masyarakat.
Di luar kelompok pangan, inflasi juga dipengaruhi meningkatnya biaya transportasi serta kebutuhan rumah tangga menjelang tahun ajaran baru. Pengeluaran untuk perlengkapan sekolah dan aktivitas pendidikan turut memberikan tekanan pada beberapa kelompok pengeluaran masyarakat.
Sementara itu, kinerja perdagangan luar negeri Sumatera Selatan masih menghadapi tantangan. Nilai ekspor tercatat mengalami penurunan, terutama akibat terbatasnya produksi batu bara yang selama ini menjadi komoditas ekspor utama daerah.
Namun demikian, komoditas karet menunjukkan perkembangan yang lebih positif. Kenaikan harga karet di pasar internasional mampu meningkatkan nilai ekspor meskipun volume produksinya belum mengalami perubahan yang signifikan.
Moh Wahyu berharap tren positif pada sektor perkebunan tersebut dapat meningkatkan pendapatan petani sekaligus mendorong peningkatan produksi karet di Sumatera Selatan pada periode mendatang.
"Kenaikan harga karet memberikan peluang yang baik bagi petani. Kondisi ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian daerah," katanya.
Baca juga: Inflasi Sumsel Tertinggi dalam Lima Bulan, BBM Jadi Pemicu
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....