Sanggar Sastra Ajak Masyarakat Maknai Hijrah lewat Puisi

  • 27 Jun 2026 23:55 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Pergantian tahun menjadi tema Sanggar Sastra dan momentum penting untuk melakukan evaluasi diri dan mengingatkan bahwa setiap manusia dituntut untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
  • hijrah hati upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
  • Masyarakat diharapkan untuk terus memperbaiki diri melalui hijrah hati, perilaku dan prestasi juga semangat dalam merubah kehidupan positif yang akan menjadi bekal menghadapi masa depan yang lebih baik,

RRI.CO.ID, Palembang - Pergantian tahun Hijriah menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi diri dan memperbaiki kualitas kehidupan. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Sanggar Sastra RRI Palembang yang mengangkat tema hijrah sebagai perjalanan batin menuju pribadi yang lebih baik.

Pandangan itu disampaikan dosen Universitas Sjakhyakirti sekaligus deklamator Sanggar Sastra, Maulan Irwadi, saat menjadi narasumber program Obrolan Komunitas di Studio Pro 1 RRI Palembang, Senin, 22 Juni 2026. Menurutnya, pergantian tahun tidak sekadar pergantian penanggalan, tetapi juga pengingat untuk terus meningkatkan kualitas iman dan perilaku.

Maulan menjelaskan hijrah hati merupakan upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui perubahan sikap dan tindakan yang lebih baik. Proses tersebut, katanya, harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui perilaku yang membawa manfaat bagi sesama.

"Salah satu puisi yang dibacakan berjudul Senja di Jembatan Ampera karya Buya Zainal Abidin Hanif. Puisi ini menggambarkan denyut kehidupan masyarakat Palembang yang terus bergerak dengan harapan akan masa depan yang lebih baik," ujarnya.

Selain itu, Maulan juga membacakan puisi berjudul Di Ujung Perjalanan di Bulan Zulhijah di Tahun Hijriah. Karya tersebut mengangkat refleksi tentang perjalanan hidup manusia dan tanggung jawab atas setiap amanah yang dijalankan.

Menurutnya, puisi menjadi media yang efektif untuk mengajak masyarakat merenungkan makna kehidupan. Setiap langkah yang ditempuh manusia pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta.

Sanggar Sastra RRI Palembang, lanjut Maulan, tidak hanya menjadi ruang bagi pembacaan puisi. Komunitas tersebut juga berfungsi sebagai wadah lahirnya karya sastra dan penguatan budaya literasi di tengah masyarakat.

Ia berharap semakin banyak generasi muda yang terlibat dalam kegiatan kepenulisan dan apresiasi sastra. Kehadiran komunitas literasi dinilai penting untuk menumbuhkan kreativitas sekaligus memperkuat karakter bangsa.

Puisi lain yang dibacakan berjudul Pemuda yang Bersedia Lehernya Dipancung Karena Kecintaannya pada Rasulullah. Karya tersebut mengisahkan pengorbanan Ali bin Abi Thalib yang mempertaruhkan keselamatannya demi melindungi Rasulullah SAW saat peristiwa hijrah.

Maulan menilai sosok Ali bin Abi Thalib dapat menjadi teladan bagi generasi muda masa kini. Nilai keberanian, keikhlasan, dan pengorbanan menjadi bagian penting dari semangat hijrah yang perlu diwariskan.

"Masyarakat diharapkan terus memperbaiki diri melalui hijrah hati, perilaku, dan prestasi. Semangat untuk berubah ke arah yang lebih positif akan menjadi bekal menghadapi masa depan yang lebih baik," tuturnya.

Melalui kegiatan tersebut, Sanggar Sastra RRI Palembang ingin meneguhkan peran sastra sebagai sarana refleksi dan pendidikan karakter. Puisi tidak hanya menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai moral yang relevan bagi kehidupan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....