Meski Bahan Naik, Harga Sate Akbar Tetap Ekonomis

  • 24 Jul 2026 07:36 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Sate Akbar di Palembang tetap mempertahankan harga Rp10 ribu per porsi selama lebih dari 10 tahun meski harga bahan pangan terus meningkat.
  • Pemilik memilih menyesuaikan jumlah tusuk sate tanpa mengurangi kualitas bahan baku agar tetap terjangkau bagi semua kalangan.
  • Strategi mempertahankan harga dan kualitas membuat Sate Akbar tetap ramai pembeli, dengan penjualan mencapai 100 hingga 250 porsi per hari.

RRI.CO.ID, Palembang - Di tengah kenaikan harga bahan pangan, Sate Akbar di Jalan Srijaya Negara No.195, Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang, tetap mempertahankan harga Rp10 ribu per porsi. Selama lebih dari 10 tahun, usaha kuliner ini memilih tidak menaikkan harga agar masyarakat tetap dapat menikmati sate dengan harga terjangkau.

Sate Akbar menyediakan dua pilihan menu, yakni sate Madura dan sate Padang, yang masing-masing dijual Rp10 ribu per porsi lengkap dengan lontong. Harga tersebut menjadikan warung sate ini tetap diminati pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga keluarga, meski biaya produksi terus meningkat.

Pemilik Sate Akbar, Akbar (46), mengatakan usaha tersebut telah dijalankannya bersama sang istri selama lebih dari satu dekade tanpa mempekerjakan karyawan. Seluruh proses, mulai dari menyiapkan bumbu, membakar sate, hingga melayani pembeli, dilakukan sendiri setiap hari.

"Kami memang dari awal membuat sendiri semuanya, lalu kami juga yang berjualan. Dari dulu sampai sekarang tetap seperti itu. Alhamdulillah, usaha ini masih bertahan dan pembelinya juga tetap ramai," ujarnya. Rabu 22 Juli 2026.

Akbar mengatakan sengaja mempertahankan harga Rp10 ribu karena ingin usahanya dapat dinikmati semua kalangan. Menurutnya, keuntungan yang lebih kecil dapat tertutupi dengan tingginya jumlah pembeli, terutama saat kondisi ekonomi membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.

"Kalau kami prinsipnya lebih baik jual murah tapi pembelinya banyak daripada jual mahal tapi yang beli sedikit. Sekarang orang juga sedang berhemat, jadi kami ingin tetap menyediakan sate yang harganya terjangkau," katanya.

Meski harga jual tidak berubah, Akbar mengakui pihaknya melakukan penyesuaian pada jumlah tusuk sate. Jika sebelumnya satu porsi berisi delapan tusuk, kemudian menjadi tujuh tusuk, kini setiap porsi terdiri dari enam tusuk sate dengan harga yang tetap sama.

"Harga ayam memang naik terus, jadi kami tidak menaikkan harga, tetapi hanya mengurangi jumlah tusuk. Kalau nanti harga ayam turun lagi, insyaallah porsinya akan kami tambah lagi menjadi tujuh tusuk seperti dulu," ujarnya.

Akbar menegaskan kualitas bahan baku tetap menjadi prioritas. Daging ayam yang digunakan merupakan potongan daging tanpa campuran kulit, sedangkan bumbu kacang dan kuah sate Padang dibuat sendiri agar cita rasa tetap terjaga.

"Kami tetap memakai bahan yang bagus. Walaupun murah, kami tidak mau kualitasnya turun. Harapan kami, pembeli yang datang ke sini selalu puas dan mau kembali lagi," katanya.

Warung sate yang berada tepat di depan SMA Negeri 10 Palembang itu mulai melayani pembeli setiap hari pukul 17.00 WIB hingga 21.00 WIB. Pada akhir pekan, dagangannya bahkan kerap habis sebelum waktu tutup. Dalam sehari, penjualan rata-rata mencapai sekitar 100 porsi dan dapat meningkat hingga sekitar 250 porsi saat ramai.

Salah seorang pelanggan, Syifa (16) warga Bukit, mengaku telah lebih dari 10 kali membeli sate di tempat ini. Siswi SMA Negeri 10 Palembang itu menilai harga Rp10 ribu sangat terjangkau dibandingkan warung sate lain yang umumnya menjual di atas Rp20 ribu per porsi.

"Saya sudah sering mengajak teman-teman makan di sini. Bahkan kalau keluarga dari luar kota datang ke Palembang juga saya ajak ke sini karena menurut saya ini salah satu sate yang enak dan murah," katanya.

Keberadaan Sate Akbar menjadi bukti usaha kuliner kecil masih mampu bertahan di tengah kenaikan harga bahan pangan melalui strategi mempertahankan kualitas dan menyesuaikan porsi tanpa menaikkan harga. Langkah tersebut sekaligus memberi alternatif makanan yang terjangkau bagi masyarakat di tengah meningkatnya biaya hidup.

Laporan: Wulan Permata Sari, Mahasiswa magang Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....