Seminar Nasional Bedah Nilai Perjuangan Jenderal Bambang Utoyo
- 15 Jun 2026 17:00 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Pengusulan gelar pahlawan nasional untuk Jenderal TNI (Purn) Bambang Utoyo merupakan aspirasi masyarakat yang diinisiasi oleh PWNU Sumatera Selatan sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih atas jasa besarnya bagi bangsa
- Penyelenggaraan seminar nasional di Gedung Sudirman Makodam II/Sriwijaya ini merupakan salah satu syarat administratif wajib untuk membedah nilai-nilai perjuangan tokoh sebelum berkas diajukan kepada Kementerian Sosia
- Proses penetapan gelar kepahlawanan dilakukan melalui mekanisme yang panjang dan berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga memerlukan rekomendasi akhir dari gubernur untuk diverifikasi oleh Dewan Gelar di tingkat pusat
RRI.CO.ID, Palembang - Jalan panjang menuju pengakuan gelar pahlawan nasional bagi Jenderal TNI (Anumerta) Bambang Utoyo kini memasuki babak krusial. Bertempat di Gedung Sudirman Makodam II/Sriwijaya, Senin, 15 Juni 2026, para sejarawan, perwakilan kementerian, hingga pihak keluarga berkumpul untuk membedah kembali jejak pengabdian mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) keempat tersebut dalam sebuah seminar nasional yang menjadi salah satu syarat mutlak pengusulan gelar.
Langkah ini diinisiasi oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Selatan yang telah menyerahkan berkas resmi sejak Mei lalu. Sebagai salah satu organisasi massa terbesar, kehadiran NU dianggap memberikan legitimasi kuat bagi aspirasi masyarakat Sumatera Selatan yang ingin memberikan penghormatan tertinggi kepada tokoh yang telah memberikan pengorbanan fisik bagi bangsa, khususnya di wilayah Sumatera Bagian Selatan.
Ketua Tim Pengusul Gelar Kepahlawanan Jendral Bambang Utoyo, Kemas Khoirul Mukhlis, menegaskan, gerakan ini adalah bentuk hutang budi kolektif. “Pengusulan ini bukan untuk kepentingan keluarga beliau, apalagi untuk kepentingan Jenderal Bambang Utoyo-nya sendiri. Pengusulan ini adalah sebagai upaya kita, ucapan terima kasih kita masyarakat khususnya Sumatera Selatan,” ujar Khoirul usai kegiatan. Ia menambahkan, kontribusi Bambang Utoyo pada dekade 1946 hingga pengabdiannya di Dewan Pertimbangan Agung menjadi alasan kuat kelayakan gelar tersebut.
Proses pengusulan ini memang tidak instan karena harus melewati mekanisme berjenjang dari tingkat kota, provinsi, hingga verifikasi akhir oleh Dewan Gelar. Pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan menyambut positif peningkatan kesadaran sejarah masyarakat melalui usulan ini.
Kasubdit Pelestarian Sejarah Kementerian Kebudayaan, Agus Hermanto, menjelaskan, seminar ini adalah bagian dari validasi memori kolektif bangsa. “Seminar nasional salah satu syarat dari rangkaian pengusulan calon pahlawan nasional. Kami menyambut gembira dan sangat positif, ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran sejarah masyarakat menyangkut memori kolektif bangsa,” jelas Agus.
Bagi pihak keluarga, inisiatif dari organisasi massa seperti PWNU merupakan berkah tersendiri. Mengingat aturan yang mengharuskan usulan datang dari kelompok masyarakat, keluarga merasa terbantu karena sulit bagi mereka untuk mengajukan nama orang tua sendiri secara langsung.
Putra almarhum, Indra Bambang Utoyo, mengungkapkan rasa bahagianya atas dukungan yang mengalir deras. “Kami merasa bahagia dan berterima kasih kepada Nahdlatul Ulama karena telah mengajukan orang tua kami. Kami dari pihak keluarga cuma bisa terima kasih karena sulit bagi kami untuk mengajukan ayah kami sendiri, tidak pada tempatnya,” ungkap Indra.
Proses krusial selanjutnya kini berada di tingkat pemerintahan daerah sebelum nantinya diserahkan kepada Presiden melalui Menteri Sosial. Kelancaran usulan ini akan sangat bergantung pada rekomendasi Gubernur Sumatera Selatan untuk kemudian dibawa ke meja pemerintah pusat guna diverifikasi oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP). Jika seluruh syarat terpenuhi, Jenderal Bambang Utoyo akan resmi bersanding dengan tokoh-tokoh besar lainnya dalam deretan pahlawan nasional Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....