Perguruan Tinggi Diminta Berperan Atasi Krisis Lingkungan

  • 17 Apr 2026 08:10 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - UIN Raden Fatah Palembang melalui program Pascasarjana kembali menggelar kajian rutin “Reboan” pada Rabu, 15 April 2026, dengan mengangkat tema peran perguruan tinggi dan dunia usaha dalam menjawab krisis lingkungan dan deforestasi.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi, di antaranya Dosen Ilmu Politik Universitas Brawijaya Qurnia Indah Permata Sari, serta Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Sumatera Selatan dan Lampung, Iwan Setiawan.

Dalam pemaparannya, Qurnia Indah Permata Sari menegaskan, perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai pihak netral dalam menjembatani kepentingan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Menurutnya, kolaborasi antar pemangku kepentingan menjadi kunci dalam mencegah konflik sekaligus menjaga keberlanjutan pemanfaatan sumber daya alam.

Ia menjelaskan, persoalan deforestasi tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Pemerintah berperan dalam regulasi, dunia usaha menjalankan aktivitas ekonomi, dan masyarakat menjadi pihak yang terdampak langsung. Sementara itu, perguruan tinggi memiliki fungsi penting melalui riset, edukasi, serta penguatan kapasitas masyarakat dalam menjaga lingkungan.

“Akademisi dapat memberikan solusi berbasis data sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga hutan,” ujarnya.

Di sisi lain, Ketua APHI Sumsel dan Lampung, Iwan Setiawan, menyoroti pentingnya kajian ilmiah dalam memahami berbagai bencana yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. “Banyak informasi yang beredar di masyarakat masih berupa asumsi yang belum didukung data dan penelitian yang valid, ujar Iwan.

Ia menegaskan bahwa akademisi perlu melakukan penelitian objektif untuk mengidentifikasi penyebab bencana, termasuk faktor aktivitas manusia maupun kondisi alam. “Semua harus dijawab melalui riset, bukan sekadar spekulasi,” katanya.

Iwan juga menambahkan bahwa tujuan utama kajian bukan untuk mencari pihak yang bersalah, melainkan menemukan solusi agar bencana serupa tidak terulang.

Wakil Direktur Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang, M. Torik, menyampaikan, kajian “Reboan” kini berkembang tidak hanya membahas studi keislaman, tetapi juga isu-isu strategis seperti kebijakan publik dan lingkungan.

Ia mengungkapkan kekhawatiran terhadap potensi musim kemarau panjang pada 2026 yang diprediksi dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan.

Menurutnya, kondisi lahan gambut yang mudah kering menjadi faktor kerentanan yang perlu diantisipasi sejak dini. Torik berharap diskusi yang dilakukan tidak berhenti pada tataran akademik, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pemerintah. Ia juga mengapresiasi kontribusi para narasumber yang telah memberikan perspektif komprehensif dalam kajian tersebut.

Sementara itu, Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang, Prof. Dr. Duski Ibrahim, menyoroti praktik pelestarian lingkungan pada masa masyarakat marga yang dinilai lebih menjaga keseimbangan alam.

Sedangkan Ustad Andi Syarifuddin mengungkapkan bahwa dalam naskah Melayu, para sultan Palembang telah menerapkan prinsip menjaga lingkungan dalam kehidupan masyarakat.

Melalui kajian ini, diharapkan tercipta sinergi lintas sektor guna menghasilkan solusi konkret dalam menghadapi krisis lingkungan dan deforestasi di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....