Kualitas Udara di Palembang Masih Sangat Berbahaya, Titik Panas Masih Tak Menentu
- 16 Sep 2026 07:10 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Kualitas udara di Kota Palembang masih berada pada kategori sangat tidak sehat dengan angka 259 berdasarkan pemantauan BMKG pada 16 September 2026.
- Puncak kualitas udara berbahaya tercatat pada nilai 367,9 yang diakibatkan oleh kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di kawasan sekitar.
- Prakirawan BMKG Novita melaporkan bahwa titik panas atau hotspot masih menunjukkan pola fluktuatif dengan distribusi di sejumlah wilayah.
RRI.CO.ID, Palembang - Kualitas udara di Kota Palembang masih berada pada kategori sangat berbahaya akibat kabut asap yang merupakan dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Prakirawan BMKG Palembang, Novita, mengatakan kualitas udara berdasarkan pemantauan sejak subuh tadi sempat mencapai angka 367,9, kategori sangat berbahaya.
Saat ini, kualitas udara tercatat di angka 298 dan masih termasuk kategori sangat tidak sehat. "Kabut asap juga masih terpantau di sejumlah wilayah. Sementara itu, pertambahan titik panas atau hotspot masih bersifat fluktuatif," kata Novita dalam siaran Info Cuaca RRI, Rabu, 16 September 2026.
Polutan utama yang terpantau adalah PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 184,1 mikrogram per meter kubik. Kondisi cuaca saat ini terpantau berada pada suhu sekitar 22 derajat Celsius.
Kecepatan angin tercatat 5 kilometer per jam dengan kelembapan udara mencapai 96 persen. Di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, kondisi cuaca terpantau berasap dengan jarak pandang atau visibility sekitar 2.000 meter.
Kondisi tersebut masih memungkinkan untuk dilakukan penerbangan. Sementara itu, kondisi cuaca di sekitar Pelabuhan Boom Baru dan kawasan Tanjung Api-Api terpantau cerah berawan dengan sedikit asap.
BMKG terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan kualitas udara di wilayah Palembang dan sekitarnya. Pemantauan juga dilakukan terhadap sebaran titik panas yang berpotensi memengaruhi kondisi udara.
Masyarakat diimbau mewaspadai kondisi kualitas udara, terutama kelompok rentan. Warga juga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....