Kue Bingko, Cita Rasa Legendaris dari Pedamaran
- 20 Jul 2025 15:21 WIB
- Palembang
KBRN, OKI: Di tengah gemerlapnya tren kuliner modern, ada satu nama yang masih setia menggugah rindu di hati para perantau asal Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan: kue bingko. Meski namanya belum setenar kue pukis atau gunjing di kalangan luas, kue ini tetap menjadi primadona di sudut-sudut kampung tempat asalnya.
Dedi, warga Pedamaran yang kini menetap di Palembang, mengaku bahwa kue bingko selalu membawanya kembali pada kenangan masa kecil. "Saat mudik ke dusun, selain bertemu keluarga, biasanya saya kangen suasana lama, lalu mencari bingko. Kalau di Palembang ada gunjing, tapi tidak sama dengan bingko di kampung halaman," tutur Dedi, Sabtu (19/7/2025), sambil tersenyum mengenang masa kecilnya.
Bingko khas Pedamaran memang berbeda. Selain teksturnya yang lembut, rasa gurih kelapanya sangat terasa. Kue ini dibuat dari tepung beras dan kelapa, dan sering disajikan dengan taburan kelapa parut di atasnya. Tak hanya varian gurih, bingko juga hadir dalam versi manis berbahan dasar pisang gedah, dibungkus daun pisang yang memberi aroma khas nan menggoda.
Salah satu pelestari kuliner tradisional ini adalah Aryani, pembuat kue bingko yang telah mewarisi resep turun-temurun dari keluarganya. Menurutnya, proses pembuatan bingko masih mempertahankan cara tradisional. “Tepung beras dibuat dengan cara digiling secara manual atau diisar menggunakan batu, lalu dicampur dengan kelapa. Kue ini kemudian dicetak dalam loyang logam khusus yang berisi 12 cetakan,” jelas Aryani.
Ia menambahkan bahwa bahan-bahan bingko berasal dari hasil pertanian sendiri. "Kami menanam padi dan kelapa, jadi semua bahannya alami dan dari kebun sendiri. Dulu hampir setiap rumah membuat kue ini bersama keluarga. Sekarang memang tak sebanyak dulu, tapi masih banyak yang menjual dengan harga terjangkau," tambahnya.
Di tengah serbuan makanan cepat saji dan kudapan kekinian, bingko tetap bertahan sebagai simbol kehangatan keluarga dan warisan budaya yang tak lekang oleh waktu. Dedi dan Aryani sepakat bahwa keberadaan kue bingko perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.
“Mencintai kuliner tradisional itu sama dengan mencintai warisan leluhur kita. Dengan membeli dan menikmati kue lawas seperti bingko, kita turut menjaga kekayaan budaya Nusantara,” pungkas Dedi.
Kue bingko bukan sekadar kudapan, tapi jendela nostalgia yang mengantar pulang siapa pun yang pernah mencicipinya—ke rumah, ke masa kecil, dan ke akar tradisi yang hangat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....