Bukadigital Siapkan Pengembangan dan Platform Digital untuk Akses Museum
- 10 Sep 2026 21:35 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Bukadigital Indonesia mengembangkan dan memelihara platform digital untuk memastikan koleksi museum tetap dapat diakses dan diperbarui secara berkelanjutan.
- Seluruh materi digital dalam program digitalisasi museum disimpan pada server khusus untuk menjamin ketahanan data jangka panjang setelah program selesai.
- Pendiri Bukadigital Indonesia, Said Muhammad Ghiffary, menekankan pentingnya infrastruktur digital yang kuat untuk mencegah hilangnya hasil digitalisasi setelah fase implementasi berakhir.
RRI.CO.ID, Palembang - Digitalisasi museum tidak berhenti setelah koleksi berhasil ditampilkan dalam bentuk digital. Bukadigital Indonesia menyiapkan pengembangan dan pemeliharaan platform digital agar koleksi museum tetap dapat diakses serta diperbarui secara berkelanjutan.
Pendiri Bukadigital Indonesia, Said Muhammad Ghiffary, mengatakan seluruh materi digital yang dikembangkan dalam program tersebut disimpan pada server yang telah disiapkan. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar hasil digitalisasi tidak hanya bertahan dalam waktu singkat setelah program selesai.
"Kita nggak cuma sampai di sini. Kami ingin akan dibuat di beberapa museum lain lagi," katanya dalam Obrolan Komunitas RRI, Jumat, 4 September 2026.
Pengembangan berikutnya juga memungkinkan penambahan koleksi baru ke dalam platform. Hal itu termasuk artefak yang hanya dipamerkan dalam waktu tertentu sebelum dikembalikan atau dipindahkan ke lokasi lain.
Selain Museum Balaputra Dewa, Buka Digital Indonesia berencana memperluas program ke sejumlah museum lainnya di Palembang maupun wilayah Jakarta dan sekitarnya. “Melalui digitalisasi, keberadaan koleksi tersebut tetap dapat menjadi bagian dari dokumentasi museum.” Ujarnya.
Pengambilan gambar dari berbagai sisi diperlukan untuk menghasilkan bentuk tiga dimensi yang mendekati objek aslinya. Proses rendering juga harus dilakukan berulang kali apabila hasil digital belum sesuai dengan bentuk dan detail artefak.
“Proses digitalisasi membutuhkan tahapan yang cukup panjang karena setiap artefak harus direkam secara detail,” jelasnya.
Bahkan, pemanfaatan kecerdasan buatan tidak selalu menghasilkan bentuk yang sama persis dengan objek asli sehingga tetap membutuhkan pengerjaan dan pemeriksaan secara manual. Ke depan, pengembangan museum digital diharapkan tidak hanya memperluas akses informasi, tetapi juga menjadi dokumentasi jangka panjang terhadap kekayaan sejarah dan budaya.
Bukadigital Indonesia mengajak generasi muda memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk mengenal sekaligus melestarikan sejarah. "Digital itu tidak menghancurkan dan melupakan budaya, tapi digital itulah yang akan menyelamatkan budaya di masa depan," ujar Said.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....