Waspada, Ancaman Nyata Dibalik Video dan Audio Deepfake

  • 06 Feb 2026 00:30 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Sejalan dengan pesatnya kemajuan teknologi digital, bentuk-bentuk kejahatan siber juga semakin berkembang, salah satunya melalui modus penipuan berbasis kecerdasan buatan. Modus ini memanfaatkan teknologi untuk meniru tampilan visual dan suara seseorang dengan sangat realistis, sehingga menjadi ancaman serius bagi individu, institusi, hingga stabilitas keamanan nasional.

Mengutip laman poltekbangplg.ac.id, deepfake adalah media sintetis berupa video atau audio yang dihasilkan melalui teknologi kecerdasan buatan, khususnya jaringan saraf tiruan (neural networks), untuk menciptakan atau memanipulasi konten agar terlihat seolah-olah nyata. Teknologi ini memungkinkan penggantian wajah atau suara dalam sebuah rekaman dengan identitas orang lain, bahkan mampu menghadirkan karakter fiktif yang baru.

Konten deepfake kerap tampil sangat meyakinkan, sehingga sulit dibedakan dari rekaman asli. Dengan kemampuan meniru suara secara presisi, pelaku penipuan dapat memengaruhi korban agar melakukan tindakan tertentu seperti membocorkan data rahasia atau memberikan akses ke sistem internal suatu institusi.

Proses pembuatan video dan audio deepfake umumnya didukung oleh teknologi kecerdasan buatan tingkat lanjut seperti Generative Adversarial Networks (GANs). Teknologi ini dilatih menggunakan kumpulan data berupa gambar, video, dan rekaman suara untuk mempelajari pola serta karakteristik unik target, kemudian digunakan untuk menghasilkan konten tiruan.

Ancaman yang ditimbulkan oleh deepfake dapat berpotensi merusak reputasi individu maupun lembaga melalui penyebaran informasi palsu secara luas. Lebih jauh, kemampuan teknologi ini dalam menciptakan konten tiruan yang sangat realistis dapat mengikis kepercayaan publik terhadap media.

Salah satu cara untuk memverifikasi keaslian rekaman adalah dengan mencermati indikasi tertentu yang menunjukkan adanya manipulasi berbasis kecerdasan buatan. Pada video deepfake, tanda-tanda yang dapat diperhatikan meliputi gerakan mata atau gerakan tubuh yang tidak wajar, ketidaksesuaian antara gerakan bibir dan suara, serta perubahan intonasi yang janggal.

Sementara itu, untuk mendeteksi audio deepfake langkah yang dapat dilakukan antara lain membandingkan rekaman yang mencurigakan dengan suara asli yang telah terverifikasi. Perbedaan biasanya terlihat dari pelafalan kata yang kurang alami, jeda bicara yang tidak konsisten, atau pola pernapasan yang terasa janggal.

Selain itu, cara lain dapat dilakukan melalui pendekatan verifikasi konvensional yang tidak hanya mengandalkan rekaman suara. Cara ini mencakup penelaahan konteks, sumber informasi, serta data pendukung lain yang berkaitan dengan audio tersebut.

Dengan memahami cara kerja dan pola penyalahgunaan teknologi ini, serta menerapkan langkah pencegahan yang tepat, masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penipuan yang semakin canggih. Sikap waspada, kebiasaan dalam melakukan verifikasi, dan menggunakan teknologi secara bijak menjadi kunci agar kemajuan teknologi tidak disalahgunakan untuk merugikan pihak lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....