Palembang Sketchers: Menggambar dengan Rasa, Merekam dengan Jiwa
- 22 Jul 2025 15:56 WIB
- Palembang
KBRN, Palembang: Sore itu, Sabtu (19/7/2025), langit Palembang cerah menaungi kawasan Kambang Iwak. Di depan Gereja Katedral Santa Maria yang megah, sekelompok orang berkumpul, membungkuk di atas kertas dengan pensil di tangan. Mereka adalah Palembang Sketchers—komunitas penggambar jalanan yang menjalankan ritual kreatifnya: sketchwalk, atau menggambar langsung di lokasi.
Kegiatan yang tampak sederhana ini menyimpan makna yang dalam. Mereka tak sekadar membuat sketsa; mereka membangun dialog senyap dengan bangunan tua yang berdiri anggun di hadapan mereka. Garis demi garis mereka tarik, arsiran demi arsiran mereka toreh, membingkai detail arsitektur katedral yang sarat sejarah.
Feris Nugraha, inisiator Palembang Sketchers, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk "cinta sunyi" pada kota. “Apa yang dilakukan oleh komunitas ini mengajarkan semua orang, bahwa menggambar adalah bentuk paling lembut dari aksi kita menyentuh kota ini. Sebuah puisi visual hening yang lahir dari gerakan mata, turun ke tangan, dan menetap di hati,” ujar Feris penuh makna.
Sketchwalk bukan sekadar ajang menggambar. Ia adalah bentuk keterlibatan warga dengan ruang kota. Feris menjelaskan, kegiatan ini rutin dilakukan dan terbuka untuk siapa saja—mulai dari seniman, mahasiswa, arsitek, hingga masyarakat umum. Objek yang digambar pun beragam, mulai dari gedung bersejarah, taman kota, hingga sudut-sudut jalan yang mungkin sering luput dari perhatian.
Salah satu partisipan, Yudi Suhairi, seorang desainer grafis dan Sekjen Komite Ekonomi Kreatif Palembang, menggambarkan aktivitas ini sebagai “perjalanan batin”. Baginya, sketchwalk adalah bentuk refleksi tentang bagaimana kota membentuk kita, dan bagaimana kita bisa menjalin kembali keterhubungan yang mungkin terputus dengan lingkungan sekitar.
“Melalui sketsa, para perupa jalanan ini menghadirkan tafsir visual atas makna simbolik yang melekat pada bangunan. Tentang nilai sejarah, keindahan, cerita-cerita, bahkan etnografi perkotaan. Sketsa menjadi sarana untuk memahami kota sebagai ruang bersama,” ujar Yudi dalam wawancara dengan RRI, Selasa (22/07).
Komunitas ini tidak berencana berhenti. Misi mereka terus berlanjut. Mereka akan menggambar ruang-ruang lain di Palembang—bukan karena kota ini sempurna, tapi karena ia layak dikenang. Layak dicintai dalam diam.
“Dalam tiap sketsa yang kita buat, terlukis diam-diam rindu yang kita miliki bersama terhadap kota ini. Dan mungkin kelak, ketika sketsa-sketsa ini dikumpulkan, ia bukan sekadar arsip visual, melainkan kesaksian cinta yang abadi,” tutup Yudi.
Palembang Sketchers membuktikan, bahwa seni dapat menjadi bahasa universal yang menyatukan. Di tengah hiruk pikuk kota, mereka memilih diam dan menggambar—merekam cinta dalam garis, menyimpan kenangan dalam kertas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....