Dari Atlet Tenis Meja, Faizul Akbar Raih Juara Nyanyi Solo Melayu
- 28 Agt 2026 06:44 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Muhammad Faizul Akbar adalah mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya yang memulai karier atletiknya sebagai atlet tenis meja dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
- Perjalanan Faizul menuju panggung seni nasional dimulai saat ia memasuki dunia perkuliahan dan menemukan passion dalam bernyanyi.
- Faizul meraih juara pertama dalam lomba vokal pertamanya melalui kegiatan Gebyar Symphony, menandai awal kesuksesan dalam karier musik.
RRI.CO.ID, Palembang - Perjalanan Muhammad Faizul Akbar menuju panggung seni nasional terbilang tidak biasa. Sebelum dikenal sebagai penyanyi, mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya itu justru aktif sebagai atlet tenis meja sejak sekolah dasar hingga SMA.
Faizul kemudian menemukan ruang untuk mengembangkan kemampuan bernyanyi setelah memasuki dunia perkuliahan. Ia mengikuti lomba vokal untuk pertama kalinya melalui kegiatan Gebyar Symphony dan berhasil meraih juara pertama.
“Dulu sebenarnya suka nyanyi, cuma tidak ada wadahnya. Baru waktu kuliah ada lomba dan alhamdulillah juara satu,” ujar Faizul dalam Obrolan Komunitas di RRI, Jumat, 14 Agustus 2026
Prestasi tersebut membuat keluarga mengetahui kemampuannya dalam bernyanyi. Dukungan keluarga kemudian semakin memperkuat keputusannya untuk serius mengembangkan kemampuan vokal.
Pada Porseni Politeknik Se-Indonesia 2026 di Medan, Faizul dipercaya mengikuti cabang Solo Melayu Putra. Ia berhasil menjadi Juara 1 setelah melalui proses seleksi dan training center di Politeknik Negeri Sriwijaya.
Awalnya, Faizul mengikuti audisi untuk kategori pop. Namun, pelatih vokal, Masuri, melihat karakter suaranya lebih sesuai untuk lagu Melayu.
“Saya awalnya daftar pop, kemudian dicoba ke Melayu. Ternyata alhamdulillah juara satu,” katanya.
Pengalaman mengikuti hadrah ketika SMA turut membantu Faizul dalam memahami karakter vokal bernuansa Melayu. Meski demikian, ia mengaku kemampuan tersebut tetap membutuhkan latihan dan arahan dari pelatih.
Faizul menyebut Masuri sebagai guru vokal pertamanya yang memberikan arahan teknik bernyanyi secara lebih terstruktur. Dari proses tersebut, ia mulai memahami bahwa bakat saja tidak cukup tanpa latihan yang tepat.
Tantangan lain muncul ketika harus membagi waktu antara kuliah, magang dan latihan. Saat menjalani magang di Baturaja, Faizul harus menyempatkan latihan di kos dan pulang ke Palembang ketika memiliki kesempatan.
“Saya juga pernah meminta izin latihan karena harus menyelesaikan laporan magang dan menghadapi sidang. Menurutnya, pendidikan tetap menjadi tanggung jawab utama yang tidak boleh diabaikan,” ungkapnya.
Faizul berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bukti bahwa kemampuan yang awalnya tidak terlihat dapat berkembang ketika mendapat kesempatan dan dukungan yang tepat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....