Sensus Ekonomi 2026 dan Tantangan Membangun Kepercayaan
- 18 Mei 2026 13:20 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Banyuasin - Pagi itu, Adi sudah sibuk menyusun tumpukan kerupuk di rak kayu dalam ruko kecil miliknya di kawasan Kilometer 18 Banyuasin. Kardus-kardus berisi kemplang, pempek kering, dan kerupuk ikan tersusun rapat di sudut ruangan. Sesekali suara alat pres plastik terdengar memecah suasana.
Usaha tersebut sudah bertahun-tahun dijalankannya. Dulu, ia berjualan keliling menggunakan sepeda motor dari warung ke warung. Kini, meski tokonya masih sederhana, usaha tersebut menjadi penopang utama kebutuhan keluarganya.
"Dulu keliling pakai motor, nitip ke warung-warung. Sekarang alhamdulillah sudah punya tempat sendiri walaupun masih sederhana," ujar Adi saat ditemui, Sabtu, 16 Mei 2026.
Di tengah aktivitasnya melayani pembeli, Adi mengaku masih sering mendengar kekhawatiran sesama pelaku usaha ketika ada petugas pendataan datang ke toko atau rumah mereka.
"Biasanya orang langsung mikir, ini nanti ada kaitannya dengan pajak, ya?,"katanya sambil tersenyum kecil.
Menurut Adi, kekhawatiran seperti itu masih cukup sering ditemui di kalangan pelaku usaha, khususnya pengusaha kecil. Banyak yang takut data usaha mereka nantinya berkaitan dengan pungutan atau urusan administrasi lain yang justru menambah beban usaha.
Padahal, bagi sebagian masyarakat, usaha kecil yang dijalankan dari rumah atau ruko sederhana merupakan sumber penghidupan utama keluarga. Karena itu, mereka cenderung berhati-hati ketika berbicara soal pendataan usaha.
"Kadang kami takut salah jawab. Takutnya nanti malah jadi masalah," ujarnya.
Menurut Adi, sebagian besar pelaku usaha sebenarnya tidak keberatan didata. Hanya saja, masih banyak yang belum memahami tujuan pendataan secara menyeluruh.
"Kalau memang untuk data pemerintah dan pengembangan usaha, saya rasa tidak masalah. Yang penting dijelaskan dengan baik ke masyarakat," katanya.
Persoalan kepercayaan masyarakat inilah yang masih menjadi tantangan menjelang pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Sensus ekonomi sendiri menjadi salah satu cara pemerintah melihat perkembangan aktivitas usaha masyarakat. Dari data tersebut, pemerintah dapat mengetahui jumlah usaha yang tumbuh, sektor yang berkembang, hingga jenis usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja.
Di Kabupaten Banyuasin, geliat usaha masyarakat memang terus alami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Letaknya yang berbatasan langsung dengan Kota Palembang ikut mendorong tumbuhnya kawasan permukiman baru dan aktivitas perdagangan warga.
Rumah-rumah warga kini tidak lagi sekadar menjadi tempat tinggal. Sebagian berubah menjadi tempat produksi makanan ringan, usaha jahit, toko kelontong, hingga bisnis online yang melayani pembeli dari dalam hingga luar daerah.
Di sepanjang Jalan Lintas Sumatera, ruko-ruko sederhana mulai dipenuhi berbagai usaha baru. Ada yang menjual sembako, makanan olahan, perlengkapan rumah tangga, hingga bisnis keluarga yang bertahan di tengah persaingan usaha modern dan penjualan digital.
Data BPS pada Sensus Ekonomi 2016 mencatat jumlah usaha nonpertanian di Sumatera Selatan mencapai lebih dari 820 ribu usaha. Sebagian besar didominasi usaha mikro dan kecil yang bergerak di sektor perdagangan, makanan olahan, jasa, dan usaha keluarga.
Kasubag Umum BPS Banyuasin, Yeni Oktavia, mengatakan Sensus Ekonomi dilaksanakan setiap 10 tahun sekali pada tahun yang berakhiran angka enam. Dalam sensus tersebut, seluruh usaha akan didata, mulai dari usaha mikro hingga perusahaan besar.
"Kalau sensus itu seluruh populasi didata. Jadi semua usaha dicatat," ujar Yeni saat ditemui di Kantor BPS Banyuasin.

Pendataan itu mencakup jenis usaha, jumlah tenaga kerja, aktivitas usaha, hingga gambaran umum kondisi usaha masyarakat. Data tersebut nantinya menjadi dasar pemerintah dalam menyusun kebijakan ekonomi daerah.
Menurut Yeni, pola usaha masyarakat saat ini juga terus berubah. Jika dulu usaha identik dengan toko fisik atau kios pasar, kini banyak usaha berjalan melalui telepon genggam dan media sosial.
Fenomena tersebut berkembang cukup pesat di Banyuasin, terutama di wilayah penyangga Kota Palembang. Banyak warga mulai menjual makanan ringan, pakaian, kosmetik, hingga kebutuhan rumah tangga melalui marketplace dan aplikasi percakapan tanpa memiliki toko fisik.
"Yang sering tidak ter-cover itu usaha online atau e-commerce. Padahal sekarang pertumbuhannya cukup besar," ujarnya.
Namun di balik pertumbuhan usaha tersebut, persoalan kepercayaan masyarakat masih menjadi tantangan utama. Yeni mengakui masih ada pelaku usaha yang tertutup ketika petugas datang melakukan pendataan.
"Mindset mereka masih terkait pajak. Itu tantangan terbesar," katanya.
Menyongsong pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, BPS RI juga mulai memperkuat koordinasi dan komunikasi hingga ke daerah. Pendataan diharapkan mampu menangkap perkembangan usaha masyarakat yang terus berubah, termasuk usaha kecil dan usaha berbasis digital yang tumbuh di berbagai wilayah.
Dikutip dari siaran pers BPS RI, Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam kegiatan Briefing Komunikasi, Koordinasi, dan Diplomasi BPS yang diikuti seluruh jajaran BPS secara hybrid, menegaskan bahwa sensus ekonomi bukan sekadar agenda pendataan rutin.
"Sensus Ekonomi adalah milik bangsa Indonesia dan BPS diberikan amanat besar untuk menjalankan ini. Ini momentum kita memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa," ujarnya.
Di Banyuasin, pemerintah daerah juga mulai mengajak masyarakat ikut berperan aktif menyukseskan Sensus Ekonomi 2026. Pemerintah menilai keberhasilan pendataan sangat bergantung pada keterbukaan informasi dari masyarakat dan pelaku usaha.
Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuasin, Erwin Ibrahim, mengatakan data sensus nantinya akan menjadi dasar penting dalam melihat kondisi perekonomian daerah sekaligus menyusun arah pembangunan yang lebih tepat sasaran.
"Pemerintah daerah mendukung penuh pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026," ujarnya.
Menurut Erwin, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap proses pendataan. Ia mengimbau pelaku usaha agar memberikan informasi yang benar dan terbuka kepada petugas sensus sehingga data yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.
"Partisipasi masyarakat sangat menentukan kualitas data yang dihasilkan," katanya.
Ia menjelaskan, data yang akurat akan membantu pemerintah melihat potensi usaha masyarakat, sektor yang berkembang, hingga kebutuhan pembinaan dan dukungan ekonomi di daerah.
Dengan data yang lengkap, pemerintah juga dapat menyusun program pembangunan yang lebih tepat sasaran, termasuk dalam mendukung pertumbuhan usaha kecil dan ekonomi masyarakat.
Bagi Adi, cara pendekatan petugas memang sangat menentukan. Menurutnya, pelaku usaha biasanya lebih terbuka jika petugas datang dengan sikap ramah dan menjelaskan tujuan pendataan secara perlahan.
"Kalau petugasnya baik dan menjelaskan dengan jelas, orang biasanya lebih percaya," ujarnya.
Adi mengaku pernah didatangi petugas pendataan, pengalamannya pun berbeda-beda. Ada petugas yang langsung menanyakan terkait usaha tanpa banyak penjelasan, ada juga yang lebih santai sambil mengobrol sehingga suasana terasa akrab.
Menurutnya, pelaku usaha kecil pada dasarnya hanya ingin diyakinkan bahwa data yang mereka berikan benar-benar digunakan untuk kepentingan pembangunan dan pengembangan usaha masyarakat.
Apalagi kondisi usaha beberapa tahun terakhir tidak selalu mudah. Harga bahan baku sering berubah, biaya distribusi meningkat, sementara persaingan semakin ketat karena banyak produk dijual secara online dengan harga murah.
Dalam sehari, omzet usaha Adi juga tidak selalu stabil. Kadang ramai menjelang hari besar keagamaan, kadang menurun ketika daya beli masyarakat melemah.
Meski begitu, ia tetap mempertahankan usaha tersebut. Baginya, usaha kerupuk itu sudah menjadi bagian dari kehidupan keluarganya.
Anak-anaknya tumbuh sambil melihat kedua orang tuanya bekerja di toko kecil itu. Bahkan salah satu anaknya kini mulai membantu memasarkan produk melalui media sosial.
"Sekarang memang harus ikut perkembangan. Orang banyak pesan lewat online juga," katanya.

Di tengah usaha kecil yang terus bertahan di antara perubahan zaman, Adi berharap perhatian terhadap pelaku usaha tidak berhenti hanya saat pendataan dilakukan.
"Pengusaha kecil itu kadang cuma ingin didengar dan dibantu berkembang," ujarnya pelan.
Bagi banyak pelaku usaha di Banyuasin, sensus ekonomi bukan sekadar pendataan. Di dalamnya ada harapan agar usaha-usaha kecil yang tumbuh perlahan dari rumah sederhana juga ikut terlihat dalam arah pembangunan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....