Rezeki Musiman Ojek Payung di Palembang
- 18 Feb 2026 08:25 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Hujan deras yang mengguyur kawasan pusat perbelanjaan Palembang Icon mendadak mengubah wajah pelataran mal. Di tengah guyuran air yang tak kunjung reda, puluhan penyedia jasa ojek payung bermunculan, menawarkan perlindungan bagi pengunjung yang hendak menuju parkiran.
Anak-anak hingga orang dewasa berdiri di sekitar pintu keluar. Payung-payung terbuka menjadi alat utama mencari rezeki. Setiap mobil yang berhenti tak luput dari perhatian mereka. Langkah cepat dan sapaan singkat jadi strategi agar dilirik calon pelanggan.
Andi, salah satu penyedia jasa ojek payung, mengaku sudah berada di lokasi sejak siang. Ia berharap hujan yang turun membawa keberuntungan.
“Terkadang saya mendapat banyak uang dalam satu hari. Namun seringkali hasil yang diperoleh justru sangat minim sekali,” ujar Andi kepada RRI, Minggu, 15 Februari 2026.
Menurutnya, pendapatan ojek payung tidak pernah pasti. Semua bergantung pada intensitas hujan dan jumlah pengunjung. Saat hujan deras dan pengunjung ramai, penghasilan bisa cukup lumayan. Namun jika hujan hanya sebentar atau pengunjung sepi, pendapatan nyaris tak ada.
Persaingan pun semakin ketat. Setiap musim penghujan tiba, jumlah penyedia jasa bertambah. Mereka datang dengan harapan yang sama: mendapat uang dari jasa sederhana, mengantar orang agar tak basah kuyup.
Meski begitu, tarif yang diberikan bersifat sukarela. Andi tak pernah mematok harga. Ia menerima berapa pun yang diberikan pengunjung. “Tidak ada tarif khusus. Seikhlasnya saja,” katanya.
Di sisi lain, keberadaan ojek payung dinilai membantu. Pengunjung tak perlu repot berlari di bawah hujan atau membasahi pakaian kerja mereka. Dalam hitungan menit, mereka bisa sampai ke mobil tanpa kehujanan.
Namun bagi Andi dan rekan-rekannya, hujan yang tak menentu adalah tantangan. Kadang datang tiba-tiba, kadang reda tanpa peringatan. Di situlah ketidakpastian penghasilan bermula.
Meski demikian, Andi tetap bertahan. Hujan bukan sekadar cuaca baginya, melainkan peluang untuk menyambung hidup.