Tabuhan Gong dan Hiring-hiring Mewarnai Pernikahan Suku Komering
- 23 Des 2025 09:50 WIB
- Palembang
KBRN, Palembang: Suasana pernikahan di Kertapati pada Minggu (21/11/2025) terasa berbeda. Tradisi adat Suku Komering kembali dihadirkan dalam prosesi sakral pernikahan, menghadirkan kekayaan budaya yang sarat makna dan nilai kearifan lokal.
Dalam pernikahan tersebut, tamu disuguhi prosesi adat bernama Jajuluk, Gelaran atau Adok, yaitu tradisi pemberian gelar yang akan dipakai seumur hidup oleh pasangan pengantin setelah menikah. Jajuluk bukan sekadar gelar, tetapi menjadi simbol identitas, garis keturunan, sekaligus bentuk penghormatan dalam masyarakat Suku Komering, di mana pun mereka berada.
Rangkaian acara diawali dengan tabuhan gong yang dibawa dari arah kursi tamu. Gong khas Suku Komering ditabuh sebanyak tiga kali, menandai dimulainya prosesi adat. Suara gong tersebut seketika memusatkan perhatian seluruh hadirin pada jalannya ritual sakral.
Menariknya, prosesi Jajuluk kali ini dibuka dengan pembacaan Hiring-hiring berbahasa Komering. Hiring-hiring merupakan ungkapan khas masyarakat Komering yang disampaikan dengan balutan senda gurau antara penutur, tamu undangan, serta keluarga yang menggelar hajatan, sehingga menciptakan suasana akrab dan hangat.
Ansory Imron, yang menyandang gelar Sastra Prawiro Negara, menjelaskan bahwa tradisi ini masih terus dilestarikan hingga kini. Ia selalu menyandingkan Hiring-hiring dengan prosesi Jajuluk karena mengandung pesan petuah dan nasihat bagi pengantin maupun masyarakat yang hadir.
“Setiap kami menyampaikan Jajuluk, selalu kami sertakan Hiring-hiring sebagai simbol budaya Komering yang kini mulai jarang terdengar. Bahkan, banyak anak muda Komering yang sudah tidak mengenal atau mampu menyampaikannya. Padahal, tradisi ini seharusnya dijaga sebagai bagian dari pelestarian kearifan lokal,” ujar Ansory, yang juga merupakan perangkat adat Komering sekaligus penyampai Jajuluk.
Hiring-hiring sendiri merupakan salah satu bentuk sastra tutur di Sumatera Selatan berupa pantun berbahasa dan berdialek Komering. Sastra lisan ini berfungsi sebagai media komunikasi, penyampai nasihat, ekspresi perasaan, hingga hiburan dalam berbagai acara sosial dan adat.
Sementara itu, Lena Wati yang bergelar Surya Dipati, selaku penutur Hiring-hiring, mengungkapkan bahwa tradisi sastra lisan ini telah ia dengar sejak kecil. Keinginan untuk melestarikan budaya leluhur mendorongnya mempelajari dan menyampaikan Hiring-hiring dalam berbagai kesempatan adat.
“Sebagai keturunan Suku Komering, ada rasa kewajiban dalam diri saya untuk mempelajari dan melestarikan sastra lisan ini. Harapannya, dari generasi ke generasi, budaya Komering tetap terjaga dan menjadi kebanggaan bagi generasi selanjutnya,” tuturnya.
Mewakili generasi muda, Hajarul Akmal yang bergelar Agung Mulya, selaku pembawa sekaligus penabuh gong, menyatakan komitmennya untuk turut melestarikan adat budaya Komering.
“Bukan hanya adat pernikahan saja yang unik dan menarik dari Suku Komering. Masih banyak adat dan budaya lainnya yang harus terus diperkenalkan dan dilestarikan agar tidak punah tergerus zaman. Ini adalah tugas kita bersama,” ujarnya di sela-sela acara.
Prosesi adat tersebut menjadi bukti bahwa tradisi Suku Komering masih hidup dan terus dijaga, sebagai warisan budaya yang memperkaya khazanah kebudayaan Indonesia.