Resep Keluarga dan Adaptasi Jadi Kunci Bertahan Usaha
- 31 Agt 2026 11:35 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Usaha kuliner keluarga berfungsi sebagai sumber penghasilan sekaligus sarana untuk melestarikan resep dan keterampilan memasak yang diwariskan antar generasi.
- Martabak 3G Bu Dewi dikelola oleh Gabrilla May Sella (Yuk Gaby) dan telah memulai perjalanan bisnisnya sejak 1990-an di Sumedang, Jawa Barat, sebelum berkembang di Palembang.
- Usaha kuliner keluarga memberikan kesempatan generasi muda untuk belajar mandiri dan meneruskan warisan bisnis yang telah dirintis oleh orang tua mereka.
RRI.CO.ID, Palembang – Usaha kuliner keluarga tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga ruang untuk mempertahankan resep dan keterampilan memasak yang diwariskan antar generasi. Usaha kuliner keluarga juga dapat menjadi ruang bagi generasi berikutnya untuk belajar mandiri sekaligus meneruskan usaha yang telah dirintis orang tua.
Pengelola Martabak 3G Bu Dewi, Gabrilla May Sella atau yang dikenal Yuk Gaby mengatakan perjalanan panjang menjadi bagian dari proses Martabak 3G Bu Dewi dalam mempertahankan usaha kuliner keluarga di Palembang. Sebelum dikenal sebagai produsen martabak, usaha tersebut telah dirintis sejak keluarga masih berada di Sumedang, Jawa Barat, sejak sekitar 1990-an.
“Pada tahun 2001, keluarga kemudian pulang ke Palembang dan berjualan di Pasar Cinde. Produk yang dijual ketika itu belum berupa martabak, melainkan getuk, makanan tradisional dan jajanan lainnya,” ujar Yuk Gaby dalam Obrolan UMKM Pro 4 RRI, Kamis, 27 Agustus 2026,
Setelah beberapa waktu, usaha mulai berfokus pada martabak dan berbagai kue tradisional. Produksi kemudian berkembang dengan melayani sejumlah reseller atau pedagang keliling.
“Dulu ada sekitar sepuluh gerobak mamang roti yang mengambil produk Mama. Itu berlangsung bertahun-tahun,” kata Gaby.
Menurut Gabrinna May Selly atau yang dikenal Yuk Gina, Pada 2017, keluarga tersebut kembali mencoba membuka tempat berjualan langsung di kawasan Pasar 26 Ilir. Usaha itu berjalan sekitar tiga tahun hingga pandemi COVID-19.
Pandemi membuat pola penjualan berubah. Mereka kemudian mempertahankan usaha melalui penjualan secara daring, termasuk memproduksi martabak dalam bentuk frozen.
“Setelah kondisi mulai membaik, usaha kembali dikembangkan dengan membuka penjualan di sekitar kawasan tempat tinggal mereka,” jelas Yuk Gina disela obrolan.
Sementara itu menurut Yuk Gaby, keterampilan memasak yang dimiliki sang ibu merupakan warisan dari nenek mereka. Karena itu, resep keluarga menjadi salah satu kekuatan yang dipertahankan hingga sekarang.
Yuk Gina menambahkan, dirinya dan kembarannya Yuk Gaby sudah terlibat membantu usaha sejak masih bersekolah. Hasil usaha bahkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan mereka.
“Dari SMP, SMA sampai kuliah, kami diajari Mama mengelola uang hasil jualan untuk kebutuhan sekolah,” kata Yuk Gina.
Setelah menyelesaikan kuliah pada 2014, keduanya memilih melanjutkan usaha keluarga tersebut. Keputusan itu dilakukan agar usaha yang telah dirintis sang ibu dapat terus berkembang.
“Martabak 3G Bu Dewi kini tidak hanya menjual martabak, tetapi juga berbagai makanan seperti pempek, nasi minyak dan aneka kue.
Pembagian tugas dilakukan secara sederhana. Yuk Gaby lebih banyak menangani produksi martabak dan kue, sementara Yuk Gina mengurus pemasaran, komunikasi dengan pelanggan serta pengelolaan pesanan.
Keduanya juga tetap mempertahankan usaha sebagai bisnis keluarga meskipun masing-masing telah berkeluarga. Bagi Yuk Gaby dan Yuk Gina, keberadaan usaha kuliner tersebut menjadi cara untuk menjaga resep keluarga sekaligus mempertahankan kebersamaan yang telah terbangun sejak kecil.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....