Dapur Lilik, Menjaga Kue Tradisional Palembang Tetap Eksis
- 28 Agt 2026 21:35 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Palembang memiliki kekayaan kuliner yang beragam di luar pempek dan pindang, termasuk berbagai kue tradisional dengan cita rasa manis yang khas.
- Kue basah tradisional Palembang seperti kue delapan jam, kue Maksuba, kue lapis legit, bolu Koko, dan engkak ketan hanya tersedia pada acara hari raya atau perayaan khusus.
- Wisata ke Palembang tidak hanya menawarkan destinasi sejarah dan religi tetapi juga pengalaman kuliner autentik yang memperkaya pengalaman wisatawan.
RRI.CO.ID, Palembang - Palembang tak hanya punya pempek dan pindang sebagai identitas kulinernya. Di balik dua makanan yang sudah dikenal luas itu, tersimpan beragam kue tradisional bercita rasa manis, legit, dan gurih yang selama ini lekat dengan perayaan keluarga dan hari besar.
Ada kue delapan jam, Maksuba, lapis legit, bolu Koko hingga engkak ketan. Kue-kue tersebut bukan sekadar hidangan, tetapi bagian dari tradisi masyarakat Palembang yang biasanya muncul dalam momentum Lebaran, pesta pernikahan, atau perayaan keluarga.
Namun, keberadaan kue tradisional itu menghadapi tantangan. Proses pembuatannya yang membutuhkan waktu, ketelitian, dan kesabaran membuat tidak banyak pelaku usaha yang memilihnya sebagai produk utama.
Kondisi itu justru dilihat sebagai peluang oleh Septi Mulyaningsih, 40 tahun, pemilik Dapur Lilik. Berbekal keterampilan yang dipelajari sejak duduk di bangku SMA, Septi mempertahankan kue tradisional Palembang sekaligus menjadikannya sebagai sumber penghasilan.
Septi belajar membuat kue dari ibunya. Kebiasaan tersebut berawal dari permintaan sang ayah yang tidak menyukai kue yang dibeli dan lebih memilih makanan yang dibuat sendiri di rumah.
“Sejak SMA saya sudah belajar membuat kue tradisional Palembang bersama ibu saya, dikarenakan ayah saya tidak menyukai kalau kita membeli kue. Menurut ayah saya, kue lebih enak dan higienis bila dibuat dan diolah sendiri,” ujar Septi saat berbincang dengan RRI dalam acara Teras UMKM, Minggu, 2 Agustus 2026.
Dari dapur rumah, Septi kemudian mencoba menjual kue buatannya kepada keluarga dan teman-teman dekat. Respons positif membuatnya semakin percaya diri mengembangkan usaha.
“Karena belajar buat kue dari masa SMA, saya coba percaya diri membuat kue lalu mencoba memasarkan ke keluarga dan teman dekat awalnya. Alhamdulillah responsnya positif, membuat saya semakin percaya diri dan semua berjalan dengan baik sampai saat ini,” katanya.
Nama Dapur Lilik mulai digunakan pada 2020, ketika pandemi COVID-19 mengubah banyak aktivitas ekonomi masyarakat. Dari usaha yang awalnya mengandalkan jaringan terdekat, pemasaran kemudian berkembang melalui reseller di sejumlah kota.
Kue buatan Dapur Lilik kini dikirim ke luar Palembang, termasuk Bandung dan Surabaya. Produk yang ditawarkan tetap bertumpu pada kue tradisional Palembang, seperti Maksuba, kue delapan jam, lapis legit dan bolu Koko.
Justru karena proses pembuatannya tidak sederhana, kue-kue tersebut memiliki pasar tersendiri. Permintaan biasanya melonjak menjelang hari raya ketika masyarakat kembali mencari hidangan tradisional untuk disajikan kepada keluarga dan tamu.
Septi mengaku periode Lebaran menjadi waktu paling sibuk. Pesanan bahkan sudah masuk sejak awal Ramadan sehingga ia harus membatasi jumlah pelanggan agar kualitas dan ketepatan waktu pengiriman tetap terjaga.
“Karena pembuatan kue basah tradisional cukup rumit dan membutuhkan kesabaran yang luar biasa, hal ini menjadi nilai jual bagi usaha saya. Saat Lebaran saya sering kewalahan memenuhi orderan customer. Mereka sudah PO dari awal Ramadan dan biasanya dua minggu sebelum hari raya saya sudah close PO, takut kewalahan dalam memenuhi pesanan,” tutur Septi.
Bagi Septi, mempertahankan usaha tersebut bukan semata soal menjual makanan. Ada warisan keluarga yang ingin terus ia jaga melalui setiap loyang kue yang diproduksi.
Di tengah semakin beragamnya pilihan kuliner modern, kue tradisional Palembang tetap memiliki ruang ketika dihadirkan dengan kualitas dan pemasaran yang tepat. Bagi Dapur Lilik, menjaga resep dan cita rasa lama sekaligus memperluas pasar menjadi cara untuk membuat warisan kuliner itu tetap hidup.
Septi berharap kue-kue tradisional Palembang tidak hanya muncul ketika Lebaran atau pesta keluarga. Lebih jauh, ia ingin kuliner tersebut tetap dikenal dan dinikmati generasi berikutnya.
Sebab bagi pelaku UMKM seperti Septi, melestarikan kuliner tradisional bukan berarti menolak perubahan. Justru dengan menjadikannya sebagai produk ekonomi yang mampu menjangkau konsumen lintas kota, warisan kuliner Palembang memiliki peluang untuk terus bertahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....