Siasat Sate Madura Cak Man Palembang Hadapi Naiknya Harga Ayam
- 04 Agt 2026 09:15 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan utama bagi pelaku UMKM kuliner dalam mempertahankan keberlangsungan usaha mereka.
- Sate Madura Cak Man di Kawasan Sekip Palembang telah beroperasi sejak tahun 1990 dan tetap melayani pelanggan setiap hari mulai pukul 15.00 WIB.
- Warung kuliner tradisional ini telah bertahan lebih dari tiga dekade menghadapi berbagai tantangan ekonomi termasuk kenaikan harga bahan baku.
RRI.CO.ID, Palembang – Kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan yang terus dihadapi pelaku usaha kuliner. Namun, bagi Sate Madura Cak Man di kawasan Sekip, Palembang, menjaga rasa dan kepercayaan pelanggan menjadi cara untuk tetap bertahan.
Warung sate yang telah berdiri sejak 1990 itu masih melayani pelanggan setiap hari. Aktivitas jual beli dimulai sekitar pukul 15.00 WIB, dengan sejumlah pilihan menu yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.
Pemilik Sate Madura Cak Man, Sumyati, mengatakan kenaikan harga bahan baku menjadi salah satu tantangan paling terasa selama menjalankan usaha yang telah berusia lebih dari tiga dekade tersebut.
Menurut dia, harga daging ayam dan kacang yang terus meningkat membuat biaya produksi ikut bertambah. Kondisi itu menuntut pelaku usaha untuk lebih cermat mempertahankan usaha tanpa mengorbankan kualitas makanan.
“Usaha ini sudah kami jalankan sejak tahun 1990 dan sampai sekarang masih terus berjalan. Tantangan yang paling terasa sekarang itu harga bahan baku semakin mahal, terutama daging ayam dan kacang,” ujar Sumyati, Minggu, 2 Agustus 2026.
Meski biaya produksi meningkat, Sumyati masih mempertahankan beberapa pilihan menu. Sate tanpa lontong dijual Rp17 ribu, sate dengan lontong Rp20 ribu, sedangkan sate dengan nasi dibanderol Rp23 ribu.
Bagi Sumyati, mempertahankan usaha bukan sekadar soal menjual makanan setiap hari. Ada pelanggan yang sudah datang sejak lama dan menjadi bagian dari perjalanan warung tersebut.
Karena itu, kualitas dan cita rasa tetap menjadi perhatian. Ia berharap usaha yang dirintis sejak 1990 tersebut tidak berhenti di generasinya, tetapi dapat diteruskan oleh anggota keluarga berikutnya.
“Harapan saya usaha ini tetap diteruskan. Insyaallah bisa menjadi usaha turun-temurun dan terus melayani pelanggan seperti selama ini,” kata Sumyati.
Harapan tersebut sejalan dengan pengalaman pelanggan yang masih memilih Sate Madura Cak Man meski pilihan kuliner di Palembang semakin beragam.
Annisa, salah seorang pelanggan, mengatakan dirinya sudah lama menjadi pelanggan karena cita rasa sate yang dinilainya tidak banyak berubah. Pelayanan yang ramah dan waktu tunggu yang relatif singkat juga menjadi alasan untuk kembali.
“Saya dari dulu sudah langganan beli sate di sini, rasanya dak berubah. Pelayanannya juga di sini ramah dan tidak menunggu lama kalau beli,” ujar Annisa.
Menurut Annisa, konsistensi rasa menjadi hal penting yang harus dipertahankan ketika harga bahan baku mengalami kenaikan. Ia berharap kenaikan biaya produksi tidak membuat kualitas sate berubah.
“Walaupun harga bahan baku sedang naik, saya berharap kualitas satenya tetap dipertahankan. Konsistensi rasa menjadi alasan pelanggan tetap datang membeli,” ujarnya.
Perjalanan Sate Madura Cak Man selama lebih dari 30 tahun menunjukkan bahwa usaha kuliner tradisional masih memiliki tempat di tengah persaingan yang semakin beragam.
Bagi usaha yang bertahan lintas generasi, menjaga rasa bukan hanya perkara resep. Kepercayaan pelanggan yang dibangun dari waktu ke waktu juga menjadi modal penting agar warung tetap hidup dan terus melayani pelanggan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Laporan Hanifa Turrohmah mahasiswa magang Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....