Pengemudi Perahu Ketek Andalkan Sungai Musi sebagai Sumber Mata Pencaharian

  • 09 Jul 2026 12:34 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Perahu ketek masih dimanfaatkan untuk menyeberang Sungai Musi dan wisata, terutama saat akhir pekan.
  • Tarif perahu ketek saat ini Rp5000 per orang, sedangkan untuk tujuan jauh bisa mencapai Rp200 ribu per jam.
  • Pengemudi perahu ketek di Sungai Musi masih bertahan meski jumlah penumpang terus menurun.

RRI.CO.ID, Palembang - Pengemudi perahu ketek di Sungai Musi, Palembang, masih bertahan meski jumlah penumpang terus berkurang. Profesi tersebut tetap dijalani karena menjadi sumber mata pencaharian bagi keluarga.

Salah satu pengemudi perahu ketek di Sungai Musi yang tinggal di 7 ulu Palembang, Herman berusia 58 tahun, mengaku telah menjalani profesi tersebut selama lebih dari 30 tahun. Ia memilih pekerjaan tersebut karena tidak memiliki modal untuk berdagang,.

"Sudah lebih dari 30 tahun saya jadi pengemudi perahu ketek. Mau berdagang harus ada modal, sedangkan saya tidak punya, jadi tetap menjalani pekerjaan ini," katanya, Sabtu, 4 Juli 2026.

Menurut Herman, profesi tersebut tetap dijalani karena menjadi sumber penghidupan bagi keluarga. Meski kondisi saat ini tidak seramai dulu, ia tetap bertahan karena harus memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya.

"Kalau menganggur, anak istri mau makan apa. Jadi mau tidak mau tetap saya jalani karena sudah lama bekerja sebagai pengemudi perahu ketek," ucapnya.

Herman mengatakan kondisi penumpang saat ini tidak seramai dulu. Menurutnya, banyak masyarakat yang kini beralih menggunakan sepeda motor sehingga jumlah penumpang perahu ketek semakin berkurang.

Meski demikian, perahu ketek masih digunakan masyarakat untuk menyeberang Sungai Musi maupun sekadar berjalan-jalan. Hari libur menjadi waktu yang paling ramai, sedangkan pada hari biasa jumlah penumpang tidak menentu.

Tarif penyeberangan saat ini sebesar Rp5000 per orang, sebelumnya tarif perahu ketek berkisar Rp2000 hingga Rp4000. Untuk tujuan yang lebih jauh, tarif disesuaikan dengan jarak tempuh dan bisa mencapai sekitar Rp200 ribu per jam.

Selain biaya operasional yang meningkat, kondisi cuaca juga menjadi tantangan bagi pengemudi perahu ketek. Saat hujan turun atau perahu mengalami kebocoran, perahu tidak dapat beroperasi sehingga pendapatan menjadi tidak menentu.

"Penghasilan tidak menentu. Kadang dapat penumpang, kadang tidak. Tantangan paling besar kalau perahunya bocor atau hujan karena tidak bisa jalan," ujarnya.

Ia menilai perahu ketek masih dibutuhkan masyarakat karena tarifnya lebih murah dibandingkan modal transportasi lain. Selain itu, keberadaan perahu ketek agar tetap terjaga dan mendapat perhatian dari pemerintah.

"Saya berharap ada bantuan atau pinjaman perahu yang lebih bagus supaya penumpang nyaman. Saya juga berharap anak-anak muda bisa meneruskan profesi sebagai pengemudi perahu ketek agar keberadaan perahu ketek tetap terjaga," tutupnya.

Laporan Aditya Dwi Permana, mahasiswa magang Fakultas Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....