Marketing 7.0: Era Augmented Human dan Pemasaran AI
- 25 Feb 2026 11:52 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Buku Marketing 7.0 resmi diperkenalkan ke publik dan mulai beredar di Indonesia. Konsep ini menandai babak baru pemasaran berbasis kecerdasan buatan.
Era baru tersebut ditandai kemunculan “augmented human” sebagai sosok pasar dominan. Mereka adalah individu yang aktivitas hariannya sangat dipengaruhi teknologi dan AI.
Dalam ulasan eksklusif di kanal Marketeers TV yang diunggah pada 24 Februari 2026, penulis buku Marketing 7.0, Iwan Setiawan, menjelaskan konsep dasar era ini. Ia menyebut kehidupan manusia kini hampir sepenuhnya terhubung dengan sistem digital.
“Augmented humans adalah manusia yang kesehariannya dipengaruhi, bahkan dikendalikan teknologi,” ujar Iwan dalam pemaparannya.
Ia mencontohkan, sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat, individu modern bergantung pada gawai. Mulai dari media sosial, aplikasi peta, streaming music, marketplace, hingga perangkat pelacak kualitas tidur.
Menurutnya, tanpa disadari seluruh aktivitas tersebut digerakkan algoritma AI. Konten yang muncul di media sosial, rute perjalanan, hingga rekomendasi belanja ditentukan sistem berbasis data.
Iwan menyebut fenomena ini sebagai cognitive outsourcing. Artinya, manusia menyerahkan sebagian fungsi berpikir dan pengambilan keputusan kepada teknologi.
“Mereka tidak lagi menghafal nomor telepon atau jadwal. Semua sudah di-outsource ke perangkat digital,” katanya.
Selain itu, muncul pola digital-first socializing. Interaksi sosial kini lebih banyak terjadi melalui pesan singkat, emoji, dan platform digital dibanding tatap muka langsung.
Dalam konteks konsumsi, AI juga berperan besar. Ia menyebutnya sebagai AI driven consumption, di mana keputusan pembelian dipengaruhi rekomendasi algoritma.
Namun, pasar augmented human tidak mudah ditaklukkan. Iwan mengingatkan adanya tiga tantangan utama bagi brand di era Marketing 7.0.
Pertama, aggressive filtering. Konsumen menyaring informasi secara cepat dan hanya memberi perhatian pada konten relevan.
Kedua, social fragmentation. Pengaruh tidak lagi terpusat pada figur besar, melainkan komunitas mikro dan nano dengan preferensi berbeda.
Ketiga, selective frugality. Konsumen bisa sangat hemat pada produk generik, tetapi rela membayar mahal untuk pengalaman unik.
“Kalau manfaatnya terasa lebih besar dari biaya, mereka akan membeli. Semua dihitung dalam sistem untung-rugi di kepala mereka,” ujar Iwan.
Ia menjelaskan, brand perlu memahami tiga sistem otak utama augmented human, yakni attention brain, social brain, dan reward brain. Ketiganya menentukan apakah sebuah pesan diperhatikan, disukai, dan akhirnya mendorong aksi.
Konsep tersebut menjadi fondasi Marketing 7.0 yang disebut sebagai era penciptaan wow moment. Brand dituntut menghadirkan pengalaman luar biasa agar mampu menembus filter konsumen digital.
Dengan peluncuran buku ini, pelaku usaha dan pemasar di Indonesia diharapkan mulai menyesuaikan strategi. Terutama dalam memanfaatkan AI secara etis dan relevan bagi kebutuhan konsumen modern.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....