Enam Faktor Utama Penyebab Produk Baru Gagal di Pasar

  • 21 Mei 2026 10:30 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Mayoritas produk baru gagal karena lemahnya product market fit.
  • Positioning yang salah membuat produk sulit menarik perhatian pasar.
  • Segmentasi tanpa riset menyebabkan produk menyasar konsumen yang keliru.
  • Distribusi yang lemah menghambat akses konsumen terhadap produk.
  • Kampanye marketing yang tidak konsisten mengurangi daya tarik merek.

RRI.CO.ID, Palembang - Sebanyak 70 hingga 80 persen produk baru gagal bertahan di pasar. Kegagalan itu tidak selalu disebabkan strategi pemasaran yang buruk.

Pakar dan praktisi marketing, Ignasius Untung, menilai banyak pelaku usaha keliru memahami akar masalah produknya. Ia mengatakan persoalan utama justru sering berasal dari produk yang tidak sesuai kebutuhan pasar.

Dalam video yang diunggah kanal Marketeers TV pada 15 Mei 2026, Ignasius menjelaskan kegagalan produk biasanya dipicu lemahnya product market fit. Menurutnya, produk yang baik sejatinya mampu menjadi “iklan” terbaik bagi dirinya sendiri.

“Kalau produknya memang menyelesaikan masalah konsumen, orang akan dengan mudah merekomendasikannya,” kata Ignasius Untung dalam tayangan tersebut.

Ia menilai banyak pelaku usaha terlalu fokus pada promosi, tetapi mengabaikan kebutuhan riil konsumen. Akibatnya, produk terlihat menarik di awal, namun tidak mampu bertahan dalam jangka panjang.

Selain isu produk, Ignasius juga menyoroti kesalahan positioning. Produk yang sebenarnya dibutuhkan pasar bisa gagal karena dipersepsikan keliru atau tidak memiliki pembeda yang kuat dibanding kompetitor.

Menurutnya, positioning yang lemah membuat konsumen sulit memahami manfaat utama produk. Kondisi itu membuat pesan pemasaran tidak mampu membangun kedekatan emosional dengan target pasar.

Ignasius turut menyinggung kesalahan segmentasi yang masih sering terjadi. Banyak pelaku usaha menentukan target pasar hanya berdasarkan asumsi, tanpa riset mendalam terhadap perilaku konsumen.

“Kadang target market ditentukan berdasarkan feeling saja. Padahal perilaku konsumen jauh lebih kompleks dibanding sekadar umur atau jenis kelamin,” ujarnya.

Masalah distribusi juga menjadi faktor penting dalam kegagalan produk. Produk yang berkualitas tetap sulit berkembang jika konsumen kesulitan menemukan atau membelinya di jalur distribusi yang tepat.

Ia mencontohkan, sebagian produk gagal berkembang bukan karena kualitasnya buruk, melainkan tidak tersedia di lokasi yang sesuai dengan kebiasaan belanja konsumennya.

Di sisi lain, kampanye pemasaran yang tidak menonjol turut memperbesar risiko kegagalan. Ignasius mengatakan banyak merek terlalu mengikuti tren hingga kehilangan identitas utamanya.

“Brand akhirnya tidak punya karakter yang jelas karena terus mengikuti apa yang sedang viral,” katanya.

Persoalan waktu peluncuran atau timing juga menentukan keberhasilan produk baru. Produk bisa gagal ketika pasar belum siap menerima inovasi tersebut, atau justru terlambat hadir saat tren mulai menurun.

Pandangan serupa juga muncul dalam kajian Harvard Business Review yang dikutip artikel BINUS berjudul “Peluncuran Produk Gagal? Hindari Kesalahan Utama Ini”. Kajian tersebut menyoroti jebakan feature overload atau produk yang terlalu dipenuhi fitur teknis.

Menurut kajian itu, banyak perusahaan terlalu sibuk menampilkan spesifikasi produk dibanding menjelaskan solusi nyata bagi kehidupan konsumen. Kampanye yang penuh hype tanpa konteks penggunaan sehari-hari dinilai membuat konsumen sulit memahami relevansi produk.

Fenomena itu menunjukkan keberhasilan produk tidak hanya ditentukan inovasi, tetapi juga kemampuan memahami kebutuhan pasar secara tepat. Pelaku usaha dituntut membangun produk yang relevan, mudah dijangkau, dan memiliki identitas yang kuat di tengah persaingan pasar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....