Silek Harimau, Bahasa Gerak Warisan Minangkabau
- 14 Agt 2026 10:35 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Silek Harimau Minangkabau adalah warisan budaya yang mengajarkan nilai kehidupan masyarakat Minangkabau melalui gerakan bela diri tradisional.
- Seni bela diri ini tidak hanya mengembangkan kemampuan fisik, tetapi juga mengajarkan filosofi kerendahan hati, ketahanan diri, dan pengetahuan yang bersumber dari alam.
- Setiap gerakan dalam Silek Harimau memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau menurut atlet M. Rosyid Rouuf.
RRI.CO.ID, Palembang - Silek Harimau Minangkabau menjadi salah satu warisan budaya yang mengenalkan nilai kehidupan masyarakat Minangkabau melalui gerakan bela diri. Seni bela diri tersebut tidak hanya mengajarkan kemampuan fisik, tetapi juga filosofi kerendahan hati, ketahanan diri, dan pengetahuan yang bersumber dari alam.
Atlet Silek Harimau Minangkabau Sumatera Selatan, M. Rosyid Rouuf, mengatakan, setiap gerakan dalam Silek Harimau memiliki makna yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Minangkabau. Ia menyampaikan hal tersebut saat menjadi narasumber program Kita Indonesia Pro 1 RRI Palembang, Kamis, 13 Agustus 2026.
Rosyid menjelaskan, ciri khas Silek Harimau terlihat dari gerakan, kuda-kuda, pukulan, dan tendangan yang terinspirasi dari gerak harimau. Posisi tubuh yang rendah dalam beberapa gerakan menjadi gambaran kerendahan hati, sementara gerakan yang kuat menunjukkan kemampuan mempertahankan diri.
"Harimau bagi masyarakat Minangkabau pada masa lalu tidak hanya dipandang sebagai hewan buas. Harimau juga dianggap sebagai sumber pembelajaran karena memiliki ketenangan, kekuatan, dan kemampuan bertahan hidup," ujarnya.
Silek Harimau juga berkaitan dengan filosofi “alam takambang jadi guru” yang memandang alam sebagai sumber pengetahuan. Filosofi tersebut menjadi salah satu dasar dalam memahami gerakan dan nilai yang terdapat dalam Silek Harimau.
Rosyid mulai menekuni Silek Harimau sejak 2025 setelah bergabung dengan salah satu sanggar di Palembang. Sekitar empat bulan menjalani latihan, ia dipercaya mewakili Sumatera Selatan dalam ajang FORNAS yang diselenggerakan di Nusa Tenggara Barat dan berhasil membawa pulang medali emas.
Selain kemampuan bela diri, latihan Silek Harimau turut membentuk kedisiplinan dan kepercayaan diri. Rosyid mengatakan pengalaman mengikuti perlombaan membuatnya belajar mengatasi rasa gugup serta menjaga fokus ketika tampil di hadapan banyak orang.
Perkembangan Silek Harimau di Sumatera Selatan juga mulai menjangkau masyarakat di luar komunitas Minangkabau. Saat ini, latihan dan pengenalan Silek Harimau telah dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Palembang, Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Ogan Komering Ulu.
Silek Harimau juga mulai diperkenalkan kepada anak-anak dan generasi muda melalui komunitas serta kegiatan di sekolah. Rosyid menyebut minat anak-anak cukup tinggi karena mereka tertarik dengan gerakan dan atraksi yang terinspirasi dari harimau.
Rosyid berharap generasi muda tidak hanya mengenal budaya dari daerah sendiri, tetapi juga mau mempelajari budaya dari daerah lain. Menurutnya, mengenal keberagaman budaya dapat menjadi salah satu cara menjaga warisan Indonesia agar tetap hidup dan dikenal generasi berikutnya.
“Generasi muda harus mau menjaga dan melestarikan budaya Indonesia,” ujar Rosyid. Ia mengajak anak muda untuk tidak ragu mempelajari budaya daerah serta terus mengenalkan warisan budaya Indonesia di tengah perkembangan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....