Mengenang Buya Zainal Abidin Hanif, Pendiri Sanggar Sastra RRI Palembang

  • 09 Agt 2026 12:39 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Mengenang sosok Buya Zainal Abidin Hanif pendiri Sanggar Sastra masih terasa mengikat dalam hati kita baik dari tutur kata beliau juga kalimat terakhirnya bahwa beliau milik umat.
  • Sosok Buya Zainal Abidin bukan hanya sebagai sosok ayah tapi seperti teman, guru bahkan kalimat beliau sangat dirindukan oleh banyak orang
  • Hal yang paling utama ditanamkan oleh Buya Zainal Abidin Hanif yaitu jiwa disiplin.

RRI.CO.ID, Palembang - Sosok Buya Zainal Abidin Hanif tetap dikenang melalui tutur kata, karya, dan keteladanan yang ditinggalkannya bagi masyarakat. Kalimat terakhirnya, “Saya milik umat,” menjadi pesan yang terus melekat bagi keluarga dan orang-orang yang pernah dekat dengannya.

Muhammad Bayu Ramadhan Hanif, Pengasuh dan Deklamator Sanggar Sastra RRI Palembang, mengenang sosok tersebut dalam program Sanggar Sastra di Studio Pro 1 RRI Palembang. Bayu menyampaikan kenangan itu saat menjadi narasumber pada Senin, 27 Juli 2026.

Menurut Bayu, kecintaan masyarakat terhadap Buya Zainal terlihat ketika almarhum meninggal dunia. Saat itu, banyak masyarakat meminta agar jenazah Buya Zainal disalatkan di Masjid Agung Palembang.

Bayu menilai permintaan tersebut menunjukkan kuatnya hubungan emosional masyarakat dengan sosok Buya Zainal. Menurutnya, kecintaan itu tidak mudah dijelaskan hanya melalui kata-kata.

Perjalanan Buya Zainal dalam berkarya juga tidak selalu berjalan mudah karena berbagai ujian datang dalam kehidupannya. Namun, ia memiliki kalimat sederhana yang kerap digunakan untuk menghadapi persoalan.

"Semakin tinggi pohon, semakin besar angin yang menerpa kita," ujar Bayu mengenang pesan Buya Zainal.

Bayu mengatakan Buya Zainal tidak hanya dipandang sebagai ayah, tetapi juga menjadi teman dan guru bagi orang-orang di sekitarnya. Sosok tersebut juga dikenal sebagai praktisi haji dan umrah sekaligus pendakwah yang meninggalkan kesan mendalam.

"Sosok Buya Zainal Abidin bukan hanya sebagai sosok ayah, tetapi seperti teman dan guru. Kalimat beliau sangat dirindukan oleh banyak orang," ujarnya.

Sebagai pendiri Sanggar Sastra, Buya Zainal memberikan pengaruh besar melalui pembinaan anggota dan karya-karya sastra yang ditinggalkannya. Pengaruh tersebut tidak hanya dirasakan dalam kegiatan sanggar, tetapi juga dalam hubungan keluarga, pertemanan, dan kehidupan sosial.

Salah satu karya yang dikenang Bayu berjudul Hidup Ini Bukan Milik Kita. Puisi tersebut mengingatkan manusia bahwa kehidupan berasal dari Allah dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.

Bayu juga menyoroti puisi Buya Zainal berjudul Cahaya Terang yang menggambarkan kecintaan mendalam kepada Rasulullah. Menurutnya, pesan tersebut dapat menjadi teladan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai lain yang paling kuat ditanamkan Buya Zainal kepada keluarganya adalah kedisiplinan. Bayu mengatakan Buya tidak memaksakan kehendak kepada anak-anaknya karena percaya Allah akan menggerakkan hati mereka untuk mengikuti perintah-Nya.

Bayu berharap kegiatan mengenang Buya Zainal tidak berhenti sebagai penghormatan terhadap sosok yang telah berpulang. Menurutnya, karya dan nilai kehidupan yang ditinggalkan dapat terus menjadi amal jariah serta memberi manfaat bagi masyarakat.

"Semoga acara malam ini mengantarkan senyuman untuk beliau. Apa yang telah beliau lakukan menjadi amal jariah dan semoga akhir kehidupan kita seperti beliau, dengan karya yang tetap hidup dan bermanfaat," tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....