Menjaga Sulam Angkinan Palembang agar Tak Mati di Tanah Sendiri
- 04 Agt 2026 14:30 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Kain Sulam Angkinan adalah wastra bersejarah dari era Sultan Mahmud Badaruddin I yang dikenal sebagai permata tekstil Palembang dengan nilai filosofis tinggi.
- Ayu, seorang pengrajin berusia 50 tahun, merupakan generasi keenam penerus keahlian sulam angkinan yang diwariskan turun-temurun sejak era kesultanan.
- Kain Sulam Angkinan saat ini terancam punah karena keterbatasan modal usaha dan minimnya pasar yang mengakibatkan kerajinan tradisional ini berada di persimpangan jalan.
RRI.CO.ID, Palembang - Jika Songket masyhur disapa sebagai "Ratu Kain", maka Palembang menyimpan satu lagi permata Wastra bernilai filosofis tinggi peninggalan Kesultanan: Kain Sulam Angkinan. Sayang, kain penuh sejarah yang mengakar sejak era Sultan Mahmud Badaruddin I Jaya Wikramo ini kini berada di persimpangan jalan, bertahan di tengah himpitan modal dan minimnya pasar.
Di sebuah sudut Kampung Angkinan, Jalan Mayor Zen, Lorong Tanjungan, Sungai Lais, Palembang, jemari Ayu (50) masih begitu lihai meniti benang. Perempuan bersahaja ini merupakan generasi keenam pengrajin sulam angkinan yang mewarisi kemahiran nenek moyangnya sejak ia masih belia.
"Saya mendapatkan ilmu sulam angkinan saat usia masih belia dari orang tua yang diturunkan oleh nenek. Usaha ini sudah kami jalani secara turun-temurun," ujar Ayu saat ditemui pada Minggu, 2 Agustus 2026.
Meski ganjaran penghargaan sebagai perawat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) kerap mampir ke tangannya, realitas di lapangan tak seindah piagam di dinding. Usaha yang melibat kaum perempuan di kampungnya itu tertatih-tatih di urusan permodalan, pasokan bahan baku, hingga pemasaran.
Promosi mandiri lewat media sosial di era digital sudah dilakoni, namun dampaknya masih jauh dari kata cukup untuk menutup biaya produksi.
"Jujur, kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Palembang yang memberikan perhatian. Tapi kami masih sangat membutuhkan uluran tangan terkait permodalan, promosi, hingga pemasaran produk yang nyata," tutur Ayu blak-blakan.
Ada kepedihan mendalam yang kerap diasingkan Ayu tiap kali menatap wajah para tetangganya yang ikut membantu merajit benang. Terbatasnya kas usaha kerap memaksa para pengrajin gigit jari menanti helai kain terjual demi selembar upah.
"Saya merasa sedih karena saat harus membayar upah para pengrajin, saya harus menunggu produk terjual lebih dahulu. Tapi justru para pengrajin yang terus memberi saya semangat. Itu yang membuat saya tidak patah arang," kataya dengan suara bergetar.
Bagi Ayu, Sulam Angkinan bukan sekadar komoditas dagang, melainkan marwah identitas Palembang. Ia menggantungkan harapan agar pemerintah daerah tak sekadar memberi perhatian seremonial, tetapi berani memasukkan seni sulam bersejarah ini ke dalam kurikulum muatan lokal sekolah.
Langkah itu diyakininya menjadi benteng terakhir agar kain kebanggaan Kesultanan ini tak lantas hilang ditelan zaman dan asing di tanah kelahirannya sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....