Berkat Tradisi Ziarah, Penjual Bunga Tabur Masih Tetap Bertahan
- 25 Jul 2026 07:13 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Bunga tabur tetap dibutuhkan masyarakat untuk kegiatan ziarah ke makam keluarga di TPU Kandang Kawat, Lemabang, Palembang.
- Penjual bunga tabur seperti Nurbaya mempertahankan usahanya dengan memanfaatkan tanaman sendiri dan membeli dari dusun di kawasan Tanjung Gelam, Kabupaten Ogan Ilir.
- Harga bunga tabur disesuaikan dengan jumlah bunga yang tersedia pada tanaman pada saat pembelian.
RRI.CO.ID, Palembang - Bunga tabur masih dibutuhkan masyarakat, terutama saat melakukan ziarah ke makam keluarga. Kondisi ini membuat penjual bunga tabur tetap bertahan, seperti yang terlihat di kawasan TPU Kandang Kawat, Lemabang, Palembang.
Nurbaya, salah satu penjual bunga tabur, mengatakan bunga yang dijual berasal dari tanaman sendiri dan sebagian dibeli dari dusun. Ia biasanya membeli bunga dari kawasan Tanjung Gelam, Kabupaten Ogan Ilir, dengan harga yang disesuaikan dengan jumlah bunga pada tanaman.
"Kalau bunganya banyak harganya lebih mahal. Kalau sedikit biasanya sekitar Rp20 ribu sampai Rp30 ribu," kata Nurbaya saat ditemui, Jumat 24 Juli 2026.
Nurbaya telah berjualan bunga tabur sekitar 20 tahun. Sebelum menjalani usaha tersebut, ia sempat berjualan di kantin. Kini, ia lebih sering berjualan di sekitar TPU Kandang Kawat setiap Jumat karena banyak masyarakat yang datang untuk berziarah.
Bunga yang dijual cukup beragam, seperti nusa indah merah, nusa indah putih, bunga kertas merah dan putih, bunga bintang, jarum, hingga asoka. Untuk bunga tabur, Nurbaya menjual tiga karangan seharga Rp10 ribu, sedangkan bunga kertas dalam kantong dijual Rp10 ribu.
"Kalau hari Jumat biasanya mulai ramai sekitar jam 11. Kalau hari biasa paling ada satu atau dua orang yang beli," ujarnya.
Menurut Nurbaya, penjualan paling ramai terjadi saat tradisi Ruwahan dan menjelang Idulfitri. Saat Ruwahan, ia bahkan bisa membawa hingga lima karung bunga dan seluruhnya habis terjual. Menjelang bulan Ramadan, ia juga mulai berjualan sekitar satu minggu sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang berziarah.
Dalam sehari, pendapatan Nurbaya tidak selalu sama. Saat ramai, ia bisa mendapatkan sekitar Rp400 ribu, sedangkan pada hari biasa pendapatannya berkisar Rp300 ribu atau kurang.
Nurbaya mengatakan kebutuhan masyarakat terhadap bunga tabur masih ada karena ziarah makam menjadi kegiatan yang sering dilakukan. Terutama pada hari Jumat dan momen tertentu, jumlah pembeli biasanya meningkat dibandingkan hari biasa.
Meski begitu, ia berharap ke depan bisa memiliki usaha lain jika ada kesempatan. Namun, jika belum ada usaha lain, Nurbaya akan tetap melanjutkan berjualan bunga tabur yang selama ini menjadi sumber penghasilannya.
"Kalau bisa ada usaha lain, ya ingin usaha lain. Kalau tidak ada, ya bunga ini yang tetap dijalankan. Saya juga berharap kalau bisa pemerintah memberikan bantuan dana," tutupnya.
Laporan Aditya Dwi Permana mahasiswa magang Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....