"Perempuan di Tengah Labirin Mal": Ketika AI Merambah Sastra Indonesia

  • 29 Sep 2026 09:50 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Buku Perempuan di Tengah Labirin Mal menjadi kumpulan cerpen komersial pertama di Sumatera Selatan dan Indonesia yang secara transparan menempatkan AI sebagai penulis utama.
  • Proses penciptaan menggabungkan perintah teks (prompt) algoritma dengan intuisi manusia yang bertindak sebagai kurator, penyunting, dan penjaga nilai emosional karya.
  • Penerbitan ini mengedepankan prinsip etis tanpa mengklaim karya mesin sebagai ciptaan manusia, sekaligus menjadi proof of concept kolaborasi teknologi dan literasi.

RRI.CO.ID, Palembang - Ruang literasi Indonesia memasuki babak baru. Kumpulan cerpen berjudul Perempuan di Tengah Labirin Mal terbitan Pustaka Labrak dan Kaki Bukit Literasi resmi hadir di Sumatera Selatan. Uniknya, seluruh narasi dalam buku setebal xviii + 212 halaman ini tidak ditulis oleh jemari manusia, melainkan oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Kehadiran buku berisi 21 judul cerpen ini memantik pembuktian baru di tengah kekhawatiran global mengenai ancaman otomasi AI terhadap kreativitas manusia. Buku ini menempatkan AI sebagai perangkai cerita utama, sementara manusia mengambil peran sebagai penyunting dan kurator.

Penyunting buku, Maspril Aries, menegaskan bahwa proyek ini merupakan eksperimen sekaligus dokumentasi atas batas-batas estetika mesin.

“Kumpulan cerpen dalam buku ini bukan karya manusia melainkan karya mesin yang disebut Artificial Intelligence. Buku ini menawarkan sebuah eksperimen: apa yang terjadi ketika mesin diminta menulis sastra, sementara manusia menjadi ‘penjaga cahaya’ manusiawi di balik kode?” ujar Maspril dalam keterangan tertulis, Senin, 28 September 2026.

Maspril menjelaskan, tiap narasi bermula dari prompt sederhana yang diangkat dari isu harian, esai, foto media sosial, hingga berita aktual. Mesin kemudian mengolah jutaan data teks sastra untuk membangun plot dan karakter. Namun, sentuhan manusia tetap menjadi benteng utama agar cerita tidak terasa datar atau generik.

“AI bukan sekadar alat jika berada di tangan yang tepat. Namun tanpa arahan kuat, hasil AI cenderung generik dan kehilangan keunikan suara pengarang. Di sinilah kejelian manusia menjadi penentu,” tambah mantan jurnalis Harian Republika tersebut.

Wartawan senior sekaligus pendiri Toko Buku Natan Yogyakarta, Nasir Tamara, menilai langkah Maspril sebagai terobosan langka dalam lanskap sastra nasional.

“Buku suntingan Maspril Aries ini sangat menarik karena untuk pertama kalinya orang Indonesia mengedit cerita pendek yang dibuat dari AI. Kebanyakan orang kita masih awam tentang potensi AI. Maspril telah memeloporinya di Indonesia dan patut mendapat apresiasi MURI,” kata Nasir.

Senada dengan itu, Dosen Sistem Informasi Universitas MDP, Muhammad Rachmadi, dalam catatan pembukanya menganalogikan AI seperti kamera di tangan fotografer.

“Pertanyaan pentingnya bukan lagi 'apakah AI bisa menulis cerpen?', melainkan bagaimana manusia memilih memanfaatkannya. Kamera menyediakan kemampuan, tetapi kualitas foto tetap dipengaruhi visi fotografer. Demikian pula AI,” tulis Rachmadi.

Secara tematis, buku ini merangkum isu-isu aktual dan lokal. Salah satu cerpennya, Bayang-Bayang di Tepian Sungai Musi, memotret realitas premanisme dan pungli di kawasan Benteng Kuto Besak Palembang. Cerita lainnya, Obituari yang Tidak Pernah Ditulis, mengangkat perdebatan idealisme media yang diadaptasi dari esai klasik Goenawan Mohamad.

Buku Perempuan di Tengah Labirin Mal tidak bermaksud menggantikan peran penulis manusia. Lebih dari itu, buku ini hadir sebagai cermin transparansi etis: menegaskan batas antara ciptaan algoritma dan sentuhan rasa manusiawi di era digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....