Bina Antarbudaya Buka Akses Pelajar Palembang Kuasai Dunia

  • 19 Sep 2026 10:40 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Program bina antar budaya ini sangat luar biasa yang pastinya akan membuka wawasan anak muda untuk mengenal dunia dan budaya yang berbeda dan lebih luas.
  • generasi muda saat ini perlu paham budaya negara lain ditengah globalisasi termasuk bahasa asing yang harus dikuasai.
  • Siswa akan semakin kaya pengalaman sesuai dengan visinya menciptakan pemimpin masa depan yang mengangkat harkat martabat serta kesejahteraan bangsa Indonesia dan umat manusia.

RRI.CO.ID, Palembang - Di tengah kepungan arus globalisasi, batas teritorial antarnegara tak lagi menjadi penghalang bagi generasi muda untuk melangkah ke panggung dunia. Lewat wadah pertukaran siswa, para pelajar di Sumatera Selatan kini punya karpet merah untuk menyelami kebudayaan asing sekaligus mengenalkan kearifan lokal ke ranah internasional.

Semangat melintasi batas budaya ini diusung oleh organisasi Bina Antarbudaya Chapter Palembang. Berbasis sukarela (volunteering), lembaga ini konsisten mendampingi para remaja usia 17 tahun ke atas untuk keluar dari zona nyaman dan berasimilasi dengan masyarakat global.

Ketua Harian Bina Antarbudaya Chapter Palembang, Ria Wilastri, menegaskan bahwa pengalaman beradaptasi di negeri orang bukan sekadar agenda jalan-jalan biasa, melainkan investasi pembentukan karakter pemimpin masa depan.

"Semua ini terbentuk tidak lain ketertarikan kami sebagai guru melihat bahwa ini organisasi berbasis relawan atau bersifat volunteering yang akan menjadi kebanggaan bagi siswa yang dikirim," kata Ria saat mengisi acara Obrolan Komunitas di Studio Pro 1 RRI Palembang, Kamis, 17 September 2026.

Dipusatkan di SMAN 17 Palembang, program ini bekerja dua arah. Selain memberangkatkan anak muda lokal ke berbagai belahan dunia, Palembang juga rutin menerima kedatangan pelajar asing dari negara-negara seperti Italia hingga Jepang.

Di titik inilah proses belajar yang sesungguhnya dimulai. Siswa asing yang bertandang ke Bumi Sriwijaya diajak melebur dengan kehidupan warga lokal—mulai dari memelajari tata krama, menguasai bahasa setempat, hingga menjelajahi kekayaan wisata dan kuliner khas Palembang.

Para relawan memegang peranan krusial sebagai jembatan informasi agar transisi budaya berjalan mulus tanpa memicu benturan nilai (culture shock).

"Moto dari Bina Antarbudaya ini adalah menjembatani pemahaman antarbudaya. Setiap siswa dari luar negara seperti dari Italia, Jepang harus belajar untuk saling memahami dan menghargai perbedaan budaya," jelas Ria.

Sebaliknya, bagi siswa lokal yang terpilih, serangkaian seleksi ketat dan pembekalan berjenjang mulai dari tingkat chapter hingga nasional disiapkan secara profesional. Kendala terbesar yang kerap dihadapi remaja saat berinteraksi di level global umumnya bersumber dari sekat bahasa dan kegagalan memahami perbedaan cara pandang.

Lewat gemblengan intensif, cara pandang anak muda terhadap dunia luar dirombak total. Mereka didorong untuk menanggalkan prasangka, lebih terbuka pada perbedaan, namun tetap berakar kuat pada identitas bangsanya sendiri. "Diharapkan generasi muda untuk menggunakan waktu dengan berbagai hal yang positif termasuk hal budaya yang menarik untuk dipahami, jadilah calon pemimpin bangsa yang berwawasan luas, fokus pada isu global dan kenali dunia melalui budaya," pukas Ria.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....