Gen Z Pilih Solo Run Jika Organisasi Kampus Kaku dan Alot

  • 17 Sep 2026 08:30 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Organisasi mahasiswa tetap relevan bagi Gen Z, tetapi sistemnya perlu lebih efisien dan adaptif.
  • Teknologi digital menjadi alat bantu komunikasi, transparansi, dan koordinasi organisasi.
  • Pertemuan tatap muka tetap diperlukan untuk menjaga kedekatan emosional dan soliditas anggota.

RRI.CO.ID, Palembang - Organisasi mahasiswa dinilai masih sangat relevan bagi generasi muda meski hidup di tengah era digitalisasi. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi (HIMSIF) Universitas Bina Darma, Mohamad Iqbal Ebrielian, menegaskan relevansi tersebut harus diiringi evaluasi sistem organisasi.

Hal tersebut disampaikan Iqbal dalam siaran Obrolan Komunitas Pro 4 RRI Palembang pada Selasa, 14 September 2026. Iqbal mengaku sistem organisasi yang terlalu kaku dan bertele-tele kerap berbenturan dengan karakter Gen Z yang menyukai efisiensi.

"Organisasi itu masih sangat relevan, tapi harus dievaluasi sistemnya," ujar Iqbal. Ia menyebut tradisi lama seperti rapat berjam-jam perlu disesuaikan agar tidak membuat mahasiswa enggan bergabung dan aktif berorganisasi.

Iqbal turut menjelaskan salah satu ciri khas Gen Z adalah kedekatan dengan teknologi serta pola pikir yang praktis dan cepat. Kondisi ini menuntut pengurus organisasi lebih adaptif dalam merancang sistem kerja tanpa menghilangkan esensi kaderisasi.

"Kalau sistem organisasi tidak dievaluasi, maka agak susah untuk berkembang sesuai zaman," katanya. Iqbal menegaskan mahasiswa akan lebih memilih bergerak secara individual apabila organisasi dianggap terlalu merepotkan dan tidak efisien.

Selain soal evaluasi sistem, Iqbal juga menegaskan teknologi digital seperti Zoom dan WhatsApp hanya berfungsi sebagai alat bantu komunikasi organisasi. "Organisasi itu membentuk manusianya, teknologi atau digitalisasi itu adalah alatnya," ungkapnya.

Iqbal menegaskan digitalisasi mempermudah pengambilan keputusan, transparansi data, hingga komunikasi antaranggota organisasi. Pertemuan tatap muka tetap dibutuhkan secara berkala meski komunikasi digital semakin mempermudah koordinasi organisasi.

Ia menilai interaksi langsung penting untuk membangun kedekatan emosional dan memahami kondisi sesama anggota. Iqbal menekankan pertemuan langsung minimal dilakukan sekali dalam sepekan guna menjaga soliditas dan kerja sama antaranggota organisasi.

Iqbal berharap organisasi mahasiswa ke depan dapat terus beradaptasi tanpa kehilangan nilai dasar seperti kepemimpinan dan kerja sama. Ia menegaskan teknologi dan organisasi seharusnya saling melengkapi, bukan saling menggantikan satu sama lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....