Dhania Putri Aziya Taklukkan Batas Lewat Tenis Meja

  • 07 Sep 2026 21:10 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Dhania Putri Aziya, atlet tunarungu wicara asal Sumatera Selatan, mampu bersaing di berbagai kejuaraan tenis meja, termasuk melawan atlet non-disabilitas.
  • Keterbatasan komunikasi diatasi dengan kode tangan dari pelatih, sementara Dhania terus menjalani latihan teknik dan fisik secara rutin.
  • Dukungan keluarga dan semangat pantang menyerah mengantarkan Dhania meraih sejumlah prestasi nasional serta menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas berhak mendapat kesempatan yang sama untuk berkembang.

RRI.CO.ID, Palembang – Keterbatasan pendengaran dan kemampuan berbicara tidak menghalangi Dhania Putri Aziya untuk terus berprestasi sebagai atlet tenis meja. Penyandang tunarungu wicara asal Sumatera Selatan itu mampu bersaing dalam berbagai kejuaraan, termasuk menghadapi atlet non-disabilitas.

Kisah perjuangan Dhania disampaikan sang ibu, Marwiyah dalam Dialog Ruang Disabilitas dan Inklusi Pro 1 RRI Palembang, Sabtu, 5 September 2026. Menurut Marwiyah, perjalanan Dhania sebagai atlet dimulai sejak usia 12 tahun dan terus berkembang hingga menjadi atlet tingkat nasional.

Dhania menghadapi tantangan komunikasi dalam proses latihan maupun pertandingan karena tidak dapat mendengar arahan pelatih secara langsung. Untuk mengatasinya, pelatih menggunakan kode tangan sebagai bentuk komunikasi saat memberikan instruksi dan strategi permainan.

"Pelatih berbicara dan mendengar, Dhania enggak mendengar. Dia main feeling, pelatih pakai kode, alhamdulillah Dhania bisa paham dengan kode yang diarahkan pelatih,” ujar Marwiyah.

Meski menghadapi tantangan tersebut, Dhania terus menjalani latihan secara rutin untuk meningkatkan kemampuan dan menjaga kondisi fisiknya. Selain latihan tenis meja, ia juga melakukan latihan fisik seperti lari, angkat beban, dan pemanasan untuk mendukung performanya saat bertanding.

Semangat tersebut mengantarkan Dhania meraih berbagai prestasi sejak mengikuti Pekan Pelajar Nasional Disabilitas di Solo pada 2017. Ia kemudian tampil di berbagai kejuaraan tingkat daerah hingga nasional, baik kategori disabilitas maupun umum.

Pada Pekan Olahraga Nasional di Papua 2021, Dhania berhasil meraih juara pertama tunggal putri kategori tunarungu. Prestasinya kembali berlanjut pada Pekan Paralimpiade Nasional di Solo pada 2024 dengan meraih juara pertama tunggal putri.

Pada 2025, Dhania juga meraih dua medali emas, satu perak, dan satu perunggu pada Pekan Olahraga Provinsi di Musi Banyuasin. Ia kemudian kembali meraih juara pertama tunggal putri pada ajang olahraga paralimpik nasional.

Menurut Marwiyah, Dhania tidak menjadikan kekalahan sebagai alasan untuk berhenti dari dunia olahraga. Ketika kalah dalam pertandingan, Dhania memang merasa sedih dan memilih menyendiri, namun kembali bersemangat setelah mendapat dukungan dari sang ibu.

“Walaupun kalah, dia tidak menyerah dan terus berpikir dia bisa. Dia nggak takut menghadapi kekalahan dan tetap semangat latihan,” kata Marwiyah.

Bagi Dhania, menjadi atlet bukan hanya tentang meraih kemenangan, tetapi juga membuktikan bahwa penyandang disabilitas mampu bersaing dan mendapatkan kesempatan yang sama. Semangat tersebut membuatnya tetap berlatih dan mengikuti berbagai kompetisi meski menghadapi tantangan yang berbeda dengan atlet lainnya.

Marwiyah mengatakan, dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan Dhania mengembangkan kemampuannya sebagai atlet. Ia terus mendampingi dan mendorong putrinya untuk mengembangkan potensi tanpa menjadikan kondisi disabilitas sebagai batasan dalam meraih cita-cita.

Ia pun mengajak para orang tua yang memiliki anak penyandang disabilitas untuk tidak menyerah dalam mendampingi anak. Menurutnya, anak perlu difasilitasi dan diberikan kesempatan untuk menggali serta mengembangkan potensi yang dimiliki.

"Terus gali potensinya, berikan kesempatan untuk anak-anak seperti ini. Jangan dikasihani, diberi kesempatan,” tutup Marwiyah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....