Asal-Usul Gelar Kiagus Palembang, Ternyata Keturunan Fatahillah
- 28 Agt 2026 22:00 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Masyarakat Palembang mengenal empat gelar bangsawan utama, yaitu Raden, Kemas, Masagus, dan Kiagus yang masing-masing memiliki makna historis.
- Gelar Kiagus pada masyarakat Palembang memiliki kaitan erat dengan Fatahillah, tokoh bersejarah yang dikenal sebagai pendiri Jakarta.
- Penemuan hubungan antara gelar Kiagus dan Fatahillah memberikan perspektif baru tentang koneksi historis antara Palembang dan Jakarta pada periode awal perkembangan kerajaan-kerajaan Nusantara.
RRI.CO.ID, Palembang - Kita tahu masyarakat Palembang mengenal beberapa gelaran bangsawan yaitu Raden, Kemas, Masagus dan Kiagus. Selanjutnya kita akan mengenal asal mula gelar Kiagus yang ternyata memiliki kaitan dengan pendiri Jakarta Fatahillah.
Pemerhati sejarah Mang Dayat (46) saat dihubungi RRI Sabtu, 22 Agustus 2026 menuturkan, bahwa asal mula gelar Kiagus pada masyarakat Palembang berkaitan erat dengan pendiri Jakarta Fatahillah.
Berbeda dengan zuriat gelaran lainnya, zuriat atau keturunan awal dari Kiagus di percaya atau diyakini dari Kiyai Bagus Bodrowongso yang menurut sejumlah riwayat beliau merupakan keturunan Fatahillah tokoh yang dikenal sebagai pendiri Jayakarta cikal bakal kota Jakarta.
“Jadi zuriat awal Kiagus ini berbeda dengan zuriat dari gelaran lainnya, karena zuriat Kiagus dipercaya dan diyakini dari Kiyai Bagus Bodrowongso yang menurut riwayat merupakan keturunan dari pendiri Jayakarta atau kita kenal Jakarta saat ini yaitu Fatahillah,” ungkap Mang Dayat
Kiyai Bagus Bodrowongso ini juga dikenal dengan nama Panglima bawah manggis, julukan ini muncul karena beliau makamnya itu ada dibawah batang manggis di komplek Pemakaman Sabuk King King Palembang.
Bagaimana keturunan dari Kiyai Bagus Bodrowongso mendapatkan gelar bangsawan di Palembang. Kisahnya bermula pada masa pemerintahan Sidoing Kenayan, saat itu terjadi peristiwa besar di Istana yang menyebabkan seluruh isi istana tersebut terbunuh.
“Nama Sidoing Kenayan berasal dari cara wafatnya karena dianiaya, peristiwa ini diawali dari hasutan orang kepada Panglima yang bernama Jaladri yang termakan hasutan menyatakan bahwa calon istrinya dilecehkan oleh raja, karena itulah sang Panglima emosi akhirnya Jaladri menyerang istana dan menguasai Istana,” ujar Mang Dayat.
Lebih lanjut Mang Dayat mengungkapkan bahwa kekuasaan Jaladri tidaklah lama, karena ada Panglima lainnya yang masih setia kepada raja Sidoing Kenayan. Sosok ini bukan dikenal sebagai Panglima saja tapi juga dikenal sebagai sosok ulama, beliau adalah Kiyai Bagus Bodrowongso, beliau memimpin perlawanan menyerang kembali istana melawan Panglima Jaladri.
Akhirnya Kiyai Bagus Bodrowongso berhasil mengalahkan dan membunuh Jaladri, setelah kemenangan tersebut Kiyai Bagus Bodrowongso ini sebenarnya memiliki kesempatan untuk naik tahta, tapi beliau tidak mau, katanya untuk menjaga kesetiaan dan garis keturunan kerajaan, Kiyai Bagus Bodrowongso hanya ingin melanjutkan dakwah Islamnya saja.
Tahta tersebut akhirnya diserahkan oleh Kiyai Bagus Bodrowongso kepada keluarga kerajaan, yakni ke Sidoing Pasarean sepupu dari Sidoing Kenayan, atas jasa besar kesetiaan dan pengorbanan inilah akhirnya keturunan dari Kiyai Bagus Bodrowongso dianugerahi gelar Kiagus yang masih ada hingga saat ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....