Indonesia Cerdas Tak Cukup dengan Otak Pintar, Stres Perlu Dikelola
- 21 Agt 2026 07:40 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Dalam konteks psikologi hidup perlu cerdas tapi hal ini tidak mempengaruhi sepenuhnya sebagai landasan karena masih banyak tuntutan lain yang lebih komplek.
- pengaruh media sosial tidak bisa dihindari, jadikan media untuk menjadi bagian hidup kita yang sehat.
- Indonesia cerdas tidak boleh hanya kita artikan sebagai Indonesia memiliki banyak orang pintar berpendidikan tapi yang lebih utama memiliki generasi muda yang mampu berfikir kritis, kreatif menguasai teknologi dan mampu bersaing,
RRI.CO.ID, Palembang - Menjadi cerdas tidak otomatis membuat seseorang mampu menjalani hidup dengan baik. Di tengah tuntutan pendidikan, derasnya informasi media sosial, hingga tekanan untuk terus berprestasi, kemampuan mengelola pikiran dan menjaga kesehatan mental juga menjadi bagian penting dari kecerdasan.
Dekan Fakultas Sosial Humaniora Universitas Bina Darma Palembang, Nuzsep Almigo, mengatakan kecerdasan intelektual memang dibutuhkan, tetapi bukan satu-satunya landasan dalam menjalani kehidupan. Ia menyampaikan hal tersebut saat menjadi narasumber acara Indonesia Cerdas di Studio Pro 1 RRI Palembang, Rabu, 19 Agustus 2026.
Menurut Nuzsep, tuntutan untuk menjadi pintar semakin terasa sejak dunia pendidikan. Persaingan sekolah, pilihan pendidikan yang dianggap memberikan manfaat lebih besar, hingga maraknya bimbingan belajar menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan akademik anak.
Namun, dorongan untuk terus meningkatkan kemampuan otak juga dapat membawa konsekuensi. Salah satunya adalah stres ketika seseorang tidak memberikan ruang yang cukup bagi pikirannya untuk beristirahat.
“Otak pintar sering dikaitkan dengan tambah stres, tentu hal ini harus dilandasi dengan kecerdasan intelektual karena otak kita setiap hari banyak menerima informasi di media sosial diperlukan juga istirahat tapi otak tetap berjalan,” tegas Nuzsep.
Ia menjelaskan, kebutuhan istirahat bukan hanya berlaku bagi tubuh. Otak juga membutuhkan jeda setelah terus-menerus menerima informasi, memproses persoalan, dan mengambil keputusan.
Kondisi tersebut menjadi semakin relevan di era media sosial. Informasi datang tanpa henti dalam bentuk teks, gambar, maupun suara. Jika tidak dikelola, banyaknya informasi dapat membuat seseorang terus berpikir bahkan ketika tubuh sebenarnya sudah membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak.
Menurut Nuzsep, orang yang memiliki kemampuan analisis tinggi juga tidak selalu terbebas dari persoalan. Dalam kondisi tertentu, kemampuan tersebut justru dapat membuat seseorang terjebak dalam overthinking.
“Otak memang diberi Tuhan kemampuan untuk memecahkan masalah, tapi terkadang otak tidak dikelola dengan baik,” ujarnya.
Ketika pikiran terus bekerja tanpa jeda, seseorang dapat menghabiskan terlalu banyak energi untuk memikirkan persoalan yang sama. Padahal, fungsi otak bukan sekadar memikirkan masalah tanpa henti, melainkan juga membantu seseorang belajar, menganalisis, mengambil keputusan dan menentukan langkah yang tepat.
Karena itu, Nuzsep menyarankan masyarakat memberikan kesempatan kepada otak untuk beristirahat. Salah satunya dengan menenangkan diri sejenak dan melakukan aktivitas yang menyenangkan.
Refresh atau melakukan kegiatan yang membuat pikiran lebih rileks, menurut dia, dapat membantu seseorang mengambil jarak dari persoalan yang sedang dihadapi. Setelah pikiran lebih tenang, perhatian dapat dikembalikan pada masalah utama untuk menentukan langkah secara lebih rasional.
Langkah lain yang tidak kalah penting adalah tidak menghadapi semua persoalan seorang diri. Ketika masalah terasa terlalu berat, seseorang dapat meminta bantuan orang lain, termasuk tenaga profesional atau ahli yang dapat menjadi tempat bertukar pikiran.
Pendekatan tersebut penting agar kemampuan berpikir tidak justru berubah menjadi beban. Dengan berdiskusi, seseorang dapat melihat persoalan dari sudut pandang berbeda dan menemukan kemungkinan solusi yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Di sisi lain, Nuzsep mengingatkan masyarakat tidak mungkin sepenuhnya menghindari media sosial. Yang perlu dilakukan adalah menjadikan media sosial sebagai bagian dari kehidupan yang sehat.
Kecepatan informasi melalui media sosial, baik secara visual maupun audio, memang memberikan banyak manfaat. Namun, pengguna tetap perlu mengatur bagaimana informasi tersebut diterima dan diproses agar tidak mengganggu keseimbangan kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, konsep Indonesia Cerdas menurut Nuzsep tidak cukup diukur dari banyaknya orang berpendidikan atau tingginya kemampuan intelektual masyarakat.
“Indonesia cerdas tidak boleh hanya kita artikan sebagai Indonesia memiliki banyak orang pintar berpendidikan tapi yang lebih utama memiliki generasi muda yang mampu berfikir kritis, kreatif menguasai teknologi dan mampu bersaing,” pesan Nuzsep.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....