Setiap Anak Istimewa, Menyelami Dunia Pendidikan Inklusi

  • 17 Agt 2026 09:51 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang perlu penanganan khusus karena kondisi fisik, mental, emosional dan sosial serta penggabungan kondisi tersebut yang berbeda dari anak pada umumnya.
  • anak berkebutuhan khusus ini diantaranya disabilitas intelektual, autisme, tunadaksa dan lainnya.
  • Adapun tantangan bagi guru dan sekolah karena kurangnya pelatihan khusus menangani ABK, ratio guru dan siswa yang belum ideal juga terbatasnya sarana pendukung.

RRI.CO.ID, Palembang- Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang perlu penanganan khusus karena kondisi fisik, mental, emosional dan sosial serta penggabungan kondisi tersebut yang berbeda dari anak pada umumnya. Hal ini ditegaskan Yenni Oktavia Guru SLB N Pembina Palembang ketika menjadi narasumber acara Ruang Disabilitas dan Inklusi di Studio Pro 1 RRI Palembang, Sabtu 15 Agustus 2026.

Yenni menerangkan secara umum jenis anak berkebutuhan khusus ini diantaranya disabilitas intelektual, autisme, tunadaksa dan lainnya. Namun perlu dipahami setiap anak itu unik dan perlu pendekatan kasus per kasus.

Orang tua bisa mendeteksi awal adanya kelainan dari anak seperti keterlambatan berbicara atau perkembangan motorik. Kesulitas berkomunikasi sampai sulit fokus, sehingga orang tua perlu konsultasi dengan tenaga ahli agar mendapatkan gambaran yang akurat.

"Semakin cepat tanda tersebut dikenali maka semakin cepat paluang untuk melakukan intervensi sehingga akan berdampak lebih optimal bagi anak," terang Yenni.

Yenni menambahkan perlu deteksi dini berkaitan dengan konsep periode emas pada anak. Intervensi ini bukan hanya anjuran tapi benar benar investasi jangka panjang untuk masa depan anak.

Adapun tantangan bagi guru dan sekolah karena kurangnya pelatihan khusus menangani ABK, ratio guru dan siswa yang belum ideal juga terbatasnya sarana pendukung. Hal ini harus menjadi perhatian bersama untuk semua pihak.

Yenni menambahkan kunci ada di kolaborasi tim yaitu orang tua, guru dan tenaga ahli yang saling terbuka dan berbagi informasi. Termasuk menjaga komunikasi dua arah yang jujur dari semua pihak.

Secara umum ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan orang tua dan pendidik yaitu membandingkan anak dengan yang lain, terlalu fokus dan banyak target. Hal ini harus dihindari oleh semua pihak.

Lakukan pada hal progres kecil yang lebih fokus, berikan anak kesempatan untuk mencoba, bahkan jika gagal maka anak akan belajar untuk tumbuh lebih mandiri. Semua hal ini akan terwujud jika ada dukungan dari keluarga dan lingkungan yang positif.

"Setiap anak tumbuh dengan waktu dan caranya sendiri, kesabaran orang tua hari ini adalah bekal kemandirian anak di masa depan, teruslah percaya diri pada proses karena kita tidak sendiri dalam perjalanan ini," pesan Yenni menutup dialog.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....