Kelewat Akrab, Relawan Literasi Kaget Disemprot Kata Kasar

  • 07 Agt 2026 23:10 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Ruang Gelora menemukan masih banyak remaja menggunakan bahasa kasar saat berinteraksi, yang diduga dipengaruhi oleh lingkungan dan paparan konten digital.
  • Relawan menilai edukasi karakter memerlukan pendekatan komunikasi yang sesuai dengan usia remaja serta tetap menjaga batasan antara pengajar dan peserta didik.
  • Ruang Gelora berkomitmen menyusun metode edukasi yang lebih efektif untuk membentuk karakter dan membiasakan penggunaan bahasa yang santun di kalangan generasi muda.

RRI.CO.ID, Palembang - Maksud hati mencairkan suasana dengan pendekatan yang ramah, para relawan literasi justru dibuat mengelus dada. Di sejumlah sekolah dan pelosok Sumatera Selatan, niat tulus mengajarkan ilmu malah dibalas dengan umpatan serta kata-kata kasar dari mulut para murid.

Fenomena memprihatinkan ini diungkapkan oleh Komunitas Ruang Gelora dalam siaran Obrolan Komunitas RRI Pro 4 Palembang pada Senin, 3 Agustus 2026. Batas antara keakraban sosial dan krisis sopan santun di kalangan remaja dinilai sudah berada pada tahap mengkhawatirkan.

Pendiri Ruang Gelora, Lailatur Rohma, membeberkan bahwa rentang usia relawan yang tidak jauh berbeda dari para siswa menjadi celah awal kaburnya etika. Para pelajar dengan mudah menganggap pengajar tak ubahnya teman tongkrongan.

"Mereka nganggapnya kayak teman, jadi kelewat ‘teman’," ungkap Laila saat menceritakan pengalamannya mengajar di lapangan.

Laila menilai mudahnya akses gawai tanpa filter di kalangan remaja menjadi bahan bakar utama yang mempercepat pergeseran tutur kata ini. Kosa kata toksik yang mereka dengar setiap hari di media sosial diimitasi begitu saja dalam interaksi nyata, termasuk kepada orang yang lebih tua.

Kondisi ini menyulitkan para relawan saat harus menyusupkan nilai-nilai karakter dan literasi.

"Kita harus mengedukasi mereka dengan kalimat-kalimat yang memang mereka pahami, dan itu cukup sulit," tambah Laila.

Dampak dari kultur berbahasa yang kian liar ini mengejutkan para relawan yang terjun langsung di garis depan. Nabila Rofifah, salah satu relawan Ruang Gelora, mengaku syok saat mendengar kosa kata yang terlontar dari anak-anak usia sekolah dasar dan menengah tersebut.

"Kaget banget, kok kayak gini. Padahal masih kecil, tapi kata-kata yang keluar udah di luar nalar," aku Nabila.

Kenyataan pahit ini membawa pelajaran berharga bagi para aktivis pendidikan. Sikap ramah dan terbuka yang selama ini diandalkan untuk merangkul anak-anak ternyata berisiko menjadi bumerang jika tidak dipagari dengan aturan main yang tegas.

Relawan Ruang Gelora lainnya, Melati, menegaskan bahwa wibawa seorang pengajar tetap harus dijaga agar proses transfer ilmu tidak ternoda oleh rasa tidak hormat.

"Ternyata kalau kita akrab ke mereka itu ternyata juga kurang baik. Pendekatan dari hati ke hati tetap perlu diimbangi dengan batasan yang jelas antara pengajar dan peserta didik," tegas Melati.

Atas rentetan temuan di lapangan ini, Komunitas Ruang Gelora kini tengah merombak ulang strategi dan formulasi edukasi mereka. Tantangan terbesar literasi saat ini bukan lagi sekadar memberantas buta huruf, melainkan menyelamatkan etika dan tutur kata generasi muda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....