Makna Belajar Ilmu Tasawuf agar Hati Selalu menuju Allah
- 12 Jul 2026 06:57 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Ilmu tasawuf walaupun tidak ada di zaman Rasulullah tetapi bahwasanya ilmu tasawuf sudah dijalankan atau menjadi contoh Rasulullah sendiri
- Tasawuf merupakan jalan pembersihan hati yang selalu mengajak dalam keridaan Allah dan tawakal sebagaimana akhlak Rasulullah yang sangat penting untuk ditauladani umat Islam.
- kita tidak lupa untuk mengisi hati kita karena Allah tidak pernah melihat rupa dan harta kita tetapi melihat hati dan amal kita dan setiap amal yang kita lakukan diharapkan agar hati kita arahnya menuju Allah,
RRI.CO.ID, Palembang - Ilmu tasawuf walaupun tidak ada di zaman Rasulullah tetapi bahwasanya ilmu tasawuf sudah dijalankan atau menjadi contoh Rasulullah sendiri yang melakukan apa yang ada dalam ilmu tasawuf. Hal ini ditegaskan Sayyid Umary Pengasuh Rumah Qur'an Aqilah dan Penyuluh Agama Kemenag KUA Kecamatan Alang Alang Lebar Palembang ketika menjadi narasumber acara Mimbar Agama Islam melalui telpon di Studio Pro 1 RRI Palembang, Kamis 9 Juli 2026.
Sayid menerangkan ilmu tasawuf mengajarkan akhlak yang mulia seperti sudah dipraktikkan oleh Rasulullah. Diantaranya sifat ikhlas, zuhud, tawakal, sabar, zikir dan muhasabah.
"Ketika seorang muslim sudah mengamalkan tasawuf ini maka dia akan merasakan apa yang Allah berikan dan Jika dia berbuat baik untuk kembali kepada Allah maka akan diterangkan dengan cahayanya Rasulullah," tegas Sayyid.
Ketika seseorang sudah belajar memahami ilmu tasawuf maka dia akan mendahulukan Allah. Dia akan merendahkan diri kepada penciptanya dengan hati yang tenang dan meyakinkan dia sebagai hamba yang selalu mendahulukan Allah.
Beruntunglah orang yang membersihkan kalbunya, maka rugilah orang orang yang mengotorinya. Hal ini disebabkan Tasawuf merupakan jalan pembersihan hati yang selalu mengajak dalam keridaan Allah dan tawakal sebagaimana akhlak Rasulullah yang sangat penting untuk ditauladani umat Islam.
Sayyid menambahkan jadikanlah tasawuf menjadi pelajaran akhlak yang mulia sebagaimana akhlak Rasulullah. Tidak pernah menyakiti atau mendendam tapi lebih tenang tak lupa kepada Allah.
Jadikan sikap teladan Rasul dan sahabatnya untuk menjadi panutan kita agar kita selalu tidak merasa lebih hebat dan paling mulia. Memahami bahwa kita ini hina tidak suci tapi Allah maha suci, semua titipan Allah kepada kita.
"Semoga di zaman yang penuh kesibukan ini kita tidak lupa untuk mengisi hati kita karena Allah tidak pernah melihat rupa dan harta kita tetapi melihat hati dan amal kita dan setiap amal yang kita lakukan diharapkan agar hati kita arahnya menuju Allah," pesan Sayyid menutup dialog.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....