Rakus dan Serakah, Penyakit Hati yang Merusak Kehidupan
- 22 Jun 2026 08:10 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Selain merusak agama sifat rakus jadi penyebab hilangnya ketenangan hidup
- Marilah membangun kehidupan yang dipenuhi rasa syukur, keridaan dan kesadaran bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara, dengan menjauhi sifat rakus dan memperkuat sifat qanaah
- Sifat rakus dan serakah merupakan sikap yang membuat seseorang selalu merasa kurang atas apa yang dimilikinya.
RRI.CO.ID, Palembang - Sifat rakus dan serakah merupakan sikap yang membuat seseorang selalu merasa kurang atas apa yang dimilikinya. Hal ini dijelaskan Ustaz Asep Saepuddin Penyuluh Agama Islam Kankemenag Kota Palembang ketika menjadi narasumber acara Mimbar Agama Islam melalui telpon di Studio Pro 1 RRI Palembang, Kamis 18 Juni 2026.
Ustaz Asep menerangkan kerakusan bukan hanya persoalan materi tapi penyakit hati yang dapat merusak kehidupan seseorang. Sifat ini membuat manusia kehilangan rasa syukur dan sulit merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
"Orang rakus tetap merasa tidak puas dan terus menginginkan lebih banyak atau tamak yang sesungguhnya sifat tamak ini harus dijauhi karena sifat tamak adalah kefakiran yang nyata," tegas Ustaz.
Orang yang tamak sebenarnya hidup dalam kemiskinan batin. Hatinya selalu merasa kurang meskipun secara lahiriah memiliki banyak harta dan kedudukan.
Ustaz menambahkan sabda Rasulullah yang menyebutkan bahwa jika manusia memiliki dua lembah harta maka ia masih akan menginginkan lembah ketiga. Hal ini menunjukkan nafsu duniawi tidak akan pernah terpuaskan apabila tidak dikendalikan.
Sifat tamak sering menyamar sebagai ambisi dan semangat kerja keras. Namun jika tidak disertai rasa syukur ambisi tersebut dapat berubah menjadi kerakusan yang merusak.
Ketamakan dapat mendorong seseorang melakukan tindakan tercela. Mulai dari kebohongan, kezaliman sampai menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan duniawi.
Selain merusak agama sifat rakus jadi penyebab hilangnya ketenangan hidup. Orang serakah selalu dihantui rasa takut kehilangan apa yang telah dimiliki.
Kebahagiaan sejati bukanlah terletak dari banyaknya harta benda. Kebahagiaan lahir dari rasa cukup, bersyukur dan penerimaan terhadap ketetapan Allah.
Ustaz menegaskan kembali qanaah merupakan benteng yang melindungi manusia dari keserakahan. Seseorang akan lebih fokus memperbaiki diri dibandingkan mengejar dunia secara berlebihan.
"Marilah membangun kehidupan yang dipenuhi rasa syukur, keridaan dan kesadaran bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara, dengan menjauhi sifat rakus dan memperkuat sifat qanaah karena manusia diyakini akan memperoleh kebahagiaan yang hakiki didunia dan akhirat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....