Prestasi Generasi Alpha Dimulai dari Budaya Membaca sejak Dini.
- 12 Mei 2026 06:45 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Generasi Alpha, anak-anak yang lahir mulai 2010, mulai menorehkan prestasi akademik dan non-akademik di Sumatera Selatan. Kunci utamanya budaya membaca yang ditanamkan sejak dini oleh keluarga dan sekolah.
Fenomena ini terlihat dari banyaknya siswa siswi Sekolah Dasar (SD) di Sumatera Selatan yang juara lomba sains, menulis cerita, hingga kreator cilik dengan konten edukatif. Para guru menilai kebiasaan membaca jadi fondasi daya pikir kritis dan kreativitas pada anak.
Guru Sekolah Kusuma Bangsa Palembang, Febby Puspita Sari pada saat Dialog Indonesia Layak Anak (IDOLA) di PRO 1 RRI Palembang, Minggu, 10 Mei 2026 menjelaskan bahwa sekolah turut mendukung kemampuan akademik siswa siswi melalui pembelajaran bahasa Inggris yang diterapkan sejak dini hingga jenjang SMP dan SMA. Ia menilai kemampuan bahasa menjadi salah satu bekal penting bagi generasi saat ini untuk menghadapi perkembangan zaman.
Febby juga mengungkapkan bahwa dirinya memiliki anak anak yang berprestasi didunia akademik baik disekolah maupun diluar sekolah. Kedua anak tersebut bernama Adityawarman Ar Rasyid dan Ayra Ilma Anindita yang juga bersekolah di Sekolah Dasar Kusuma Bangsa Palembang.
Adityawarman Ar Rasyidmengaku senang bersekolah di Kusuma Bangsa karena lingkungan belajar yang mendukung minat dan bakat siswa. Ia juga mengungkapkan cita-citanya ingin menjadi ahli fisika di masa depan. “Saya suka belajar fisika dan ingin menjadi ahli fisika,” ujarnya.
Sementara itu, Ayra Ilma Anindita mengatakan dirinya bercita-cita menjadi dokter, khususnya dokter anak. Menurutnya, profesi tersebut menjadi impiannya karena ingin membantu banyak anak agar tetap sehat dan bahagia.
ketertarikan Aditya terhadap fisika dipengaruhi oleh kekagumannya terhadap B. J. Habibie. “Aditya suka fisika karena ingin mengikuti Presiden B.J. Habibie,” katanya dalam dialog tersebut.
Menurut Febby, kedua anaknya tersebut memiliki karakter dan minat yang berbeda. Aditya lebih menyukai buku-buku ilmiah, sedangkan Ayra lebih tertarik membaca buku berbahasa Inggris. Perbedaan minat tersebut dinilai menjadi potensi positif yang perlu terus diarahkan dan dikembangkan oleh orang tua maupun sekolah.
Febby menambahkan bahwa kebiasaan membaca sudah ditanamkan sejak anak-anak masih kecil. Ia mengaku lebih mengenalkan buku dibandingkan penggunaan telepon genggam kepada anak-anaknya. “Dari kecil kami kasih buku dan sampai sekarang belum kami kasih handphone,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa sejak usia satu tahun anak-anak mulai dikenalkan dengan buku bergambar dan dibiasakan mendengarkan cerita sebelum tidur. Menurutnya, kebiasaan tersebut mampu meningkatkan daya imajinasi, kemampuan bahasa, serta minat belajar anak. Febby menyebut buku pertama yang dibaca anak-anaknya adalah seri Hello Balita.
Dengan mengajak dan memperkenalkan anak membaca buku sejak dini mampu menghasilkan generasi anak yang cerdas dan berperstasi. Buku adalah jendela dunia, membaca buku merupakan cara utama untuk mendapatkan pengetahuan, wawasan, dan pengalaman luas tanpa harus bepergian secara fisik. Dengan membaca, seseorang dapat memahami berbagai budaya, ilmu, dan sejarah, yang membantu membuka cakrawala berpikir serta meningkatkan kecerdasan dan kreativitas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....