Tiga Teknik Instan Komunikasi agar Tidak Berbelit-belit

  • 26 Feb 2026 07:49 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Kerap kali seseorang merasa cemas saat harus berbicara di depan umum atau saat menghadapi klien penting. Rasa cemas ini sering kali memicu munculnya filler words seperti "ehm", "anu", atau "ee", yang justru membuat pesan yang disampaikan menjadi tidak jelas dan berbelit-belit.

Dalam sebuah unggahan video di kanal YouTube @JasonStanleyUnscripted pada 17 November 2025 yang berjudul 3 Teknik Ini Bakal Bikin Omongan Lo 100x Lebih JELAS Secara Instan!. Jason Stanley seorang trainer komunikasi membagikan rahasia agar pembicaraan menjadi jauh lebih jelas dan dipercaya oleh lawan bicara.

1. Menghilangkan filler Words dengan keheningan

Jason menjelaskan bahwa penggunaan kata pengisi atau filler words biasanya berakar dari rasa tidak enakan kepada lawan bicara. Pembicara merasa harus terus mengisi ruang suara agar lawan bicara tahu bahwa mereka sedang berpikir.

Untuk mengurangi hal tersebut Jason menyarankan untuk mengganti filler words dengan keheningan. Dengan berdiam sejenak saat berpikir, pembicara justru akan terlihat lebih tenang dan berwibawa. Selain itu, ia menekankan pentingnya fokus pada hal-hal yang bisa dikontrol.

2. Mengatur Tempo: Teori Cognitive Overload

Teknik kedua adalah berbicara lebih pelan dengan durasi sekitar 3 sampai 5 kata per kalimat. Hal ini berkaitan dengan cognitive overload theory, di mana otak manusia memiliki batasan dalam mencerna informasi yang masuk terlalu cepat.

Jason menganalogikan cara bicara seperti menyuapi bayi. Jika makanan diberikan terlalu cepat sebelum makanan sebelumnya ditelan, bayi akan tersedak. Begitu pula dengan pendengar.

"Kalau lu ngomongnya cepat banget, otak dia (lawan bicara) bakal kayak kepenuhan. Tapi kalau lu ngomongnya pelan-pelan, dia udah paham, baru lu kasih lagi makanannya (informasi baru)," jelas Jason.

3. Menggunakan Struktur Bicara yang jelas

Terakhir, agar pembicaraan tidak berbelit-belit, diperlukan struktur yang rapi. Jason memperkenalkan metode tiga titik utama dalam menyampaikan argumen yaitu opini utama, opini pendukung serta contoh atau data.

Menurutnya, memberikan alasan (reason and justification) sangat penting karena secara psikologis manusia lebih mudah percaya jika ada latar belakang yang logis.

"Gunakan opini pendukung bukan cuman buat bikin argumen lo lebih kuat, tapi juga buat bikin pesan lo lebih jelas karena opini pendukung bikin orang lebih percaya sama lo," pungkasnya.

Dengan menerapkan ketiga teknik ini yaitu menghilangkan filler words, memperlambat tempo, dan menggunakan struktur bicara yang jelas maka siapa pun bisa meningkatkan kualitas komunikasinya secara signifikan dalam waktu singkat.

Rekomendasi Berita