Pro 2 RRI Palembang Gelar Simfoni Kebhinekaan di SMAN 3 Palembang
- 05 Mei 2026 16:02 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Pro 2 RRI Palembang menyelenggarakan program Simfoni Kebhinekaan.
- Kepala SMAN 3 Palembang Sugiyono menekankan konsep asah, asih, asuh sebagai warisan sistem Among Ki Hajar Dewantara.
- Nicolas Saputra Tim Pencegahan Satgaswil Sumsel Densus 88 AT Polri mengingatkan pelajar untuk menjaga Pancasila, UUD, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI.
- Rahayu Mikuati menyoroti pentingnya menjaga sikap toleransi untuk mencegah dampak psikologis negatif pada siswa.
RRI.CO.ID, Palembang - Ancaman perpecahan dan upaya untuk memperkuat nilai kebhinekaan mendorong Pro 2 RRI Palembang untuk menyelenggarakan kegiatan Simfoni Kebhinekaan bagi generasi muda di SMAN 3 Palembang pada Selasa, 5 Mei 2026. Puluhan siswa SMAN 3 Palembang mengikuti acara tersebut dengan antusias.
Kepala SMAN 3 Palembang, Sugiyono, menyambut baik pelaksanaan program tersebut di lingkungan sekolahnya. Sugiyono menganggap penerapan nilai-nilai keindonesiaan sebagai wujud nyata dari transfer ilmu dan kasih sayang.
Sugiyono menyatakan bahwa pendidikan modern tetap harus berlandaskan pada ajaran luhur para pendahulu bangsa. Pihak sekolah menerapkan tiga konsep utama, yaitu asah, asih, dan asuh dalam kegiatan belajar mengajar.
Tiga konsep tersebut mengadopsi sistem Among yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Seluruh tenaga pendidik menjadikan konsep ini sebagai pilar utama dalam mendidik siswa.
Nicolas Saputra dari Tim Pencegahan Satgaswil Sumsel Densus 88 AT Polri menghadiri acara di SMAN 3 Palembang sebagai narasumber. Selain itu, Psikolog Rahayu Mikuati turut hadir sebagai narasumber untuk memberikan pembekalan penting kepada para siswa.
Nicolas menjelaskan beberapa instrumen penting yang menjaga keutuhan nilai kebhinekaan di Indonesia. Instrumen tersebut mencakup Pancasila, Undang-Undang Dasar, semboyan Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI.
Nicolas menegaskan peran aktif pelajar dalam mempertahankan instrumen kebangsaan tersebut agar tidak luntur. "Tugas pelajar adalah menjaga lima instrumen tersebut tetap berbunyi," jelas Nicolas di depan para siswa.
Rahayu Mikuati mengaitkan pemahaman kebhinekaan dengan perspektif psikologi generasi muda saat ini. Siswa harus memprioritaskan perilaku menghargai keberagaman daripada sekadar mengejar nilai akademik.
Rahayu mengingatkan dampak psikologis jangka panjang akibat perilaku tidak menyenangkan antarsiswa terkait keberagaman. "Perilaku yang tidak mengenakkan kepada teman akibat keberagaman, itu akan membekas dan berdampak pada kondisi psikologisnya," kata Rahayu.
Para siswa SMAN 3 Palembang memeriahkan acara dengan menampilkan lagu dan puisi bertema kebangsaan. Masyarakat dapat menonton tayangan ulang siaran langsung kegiatan tersebut melalui kanal YouTube RRI Palembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....