Menjaga Ukhuwah dalam Perbedaan Pandangan Awal Ramadan

  • 04 Mar 2026 17:16 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Suasana Ramadan kini telah menyelimuti umat Muslim di berbagai penjuru negeri. Di tengah khusyuknya ibadah dan semangat memperbanyak amal, isu klasik mengenai perbedaan penentuan awal puasa maupun potensi perbedaan 1 Syawal kembali menjadi perbincangan.

Namun bagi Ismawati, mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Publisistik Thawalib Jakarta, perbedaan tersebut bukanlah hal yang perlu diperdebatkan. Hal itu ia sampaikan saat berbincang dalam program Spada Pro 2 RRI Palembang edisi Moderasi Beragam, Selasa, 24 Februari 2026.

Menurut Isma, setiap perbedaan dalam penentuan awal Ramadan maupun 1 Syawal memiliki dasar atau dalil masing-masing. Di Indonesia, mayoritas umat Islam merujuk pada mazhab Imam Syafi’i dalam praktik fikih, termasuk dalam penetapan awal bulan hijriah. Sementara dirinya secara pribadi mengikuti rukyat global.

Meski memiliki pandangan berbeda, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak perlu dimasalahkan. Perbedaan, kata dia, adalah bagian dari khazanah keilmuan Islam yang telah berlangsung sejak lama.

“Perbedaan itu kita punya dalil. Di Indonesia merujuk Imam Syafe’i. Saya pribadi mengikuti rukyat global. Tapi tidak perlu debat karena masing-masing punya dalil,” ujarnya.

Ia menilai kedewasaan dalam beragama justru terlihat dari cara seseorang menyikapi perbedaan. Ramadan, menurutnya, seharusnya menjadi momentum memperkuat persaudaraan, bukan memperuncing perbedaan pandangan.

Isma pun mengingatkan bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 185.

“Ini momen penting karena manusia lebih dekat dengan Al-Qur’an. Di dalam Islam diajarkan keseimbangan, keadilan, dan toleransi,” katanya.

Ia berharap umat Islam memanfaatkan Ramadan untuk memperdalam ajaran agama secara utuh dan menjaga kerukunan di tengah keberagaman.

Rekomendasi Berita