Boneka Purun dan Mimpi Anak-Anak Gambut
- 19 Nov 2025 13:32 WIB
- Palangkaraya
KBRN, Palangka Raya: Halaman TK Darul Istiqomah Bukit Tunggal dipenuhi anak-anak yang duduk bergerombol di atas tikar, pada (14/11/2025) pagi.
Mata mereka berbinar, menunggu sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Di ujung halaman, sebuah layar putih terbentang.
Di depannya, boneka-boneka kecil berbahan purun tanaman rawa yang biasa mereka lihat tumbuh liar di pinggir kampung, bersiap untuk hidup.
Ketika lampu menyala dan bayangan bergerak di layar, riuh rendah anak-anak pecah. Mereka menunjuk, tertawa, lalu terdiam ketika cerita tentang gambut dan air mulai terurai.
Inilah Paper Puppet Purun, sebuah teater multimedia yang lahir dari kerja kolaboratif Tim Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Universitas Palangka Raya. Bukan sekadar pertunjukan boneka biasa, ini adalah upaya mengembalikan purun dan bersama dengannya, kesadaran akan lahan gambut yang makin terancam, ke dalam ingatan kolektif masyarakat Kalimantan Tengah.
Nawung Asmoro Girindraswari, ketua tim yang juga dosen seni di UPR, menjelaskan bahwa gagasan Paper Puppet Purun lahir dari kegelisahan.
“Kami melihat anak-anak sekarang lebih akrab dengan gawai daripada dengan alam di sekitar mereka. Purun, yang dulu jadi bagian dari keseharian masyarakat gambut, kini mulai asing,” “Kami ingin menghadirkan kembali purun, tapi dalam bahasa yang dimengerti generasi sekarang: visual, multimedia, interaktif," katanya di sela persiapan pertunjukan ketiga di Pavilium Tjilik Riwut.
Program yang didanai hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ini bukan proyek solo. Tim inti yang terdiri dari Muh. Andis Hidayatullah, Utari Yolla Sundari, dan Nirena Ade Cristhy bekerja sama erat dengan Borneo Art Play, kelompok seni yang fokus pada pengembangan teater objek dan integrasi teknologi digital ke dalam panggung.
Sanggar Seni Parai Eko Yes turut memberi dukungan dalam jejaring komunitas dan ruang kreatif. Marissa Aulia Mayangsari, praktisi teater Palangka Raya, kemudian bergabung memberi sentuhan dramaturgi yang lebih dalam.
Hasilnya adalah tur keliling desa yang menyentuh tiga titik berbeda dengan karakter audiens yang beragam. Setelah TK Darul Istiqomah, pertunjukan berlanjut ke SDN 05 Bukit Tunggal. Kali ini, narasi diperdalam. Anak-anak SD tidak hanya menonton, tetapi juga diajak memahami bagaimana boneka purun dioperasikan.
Mereka diberi kesempatan menyentuh, menggerakkan, bahkan mencoba sendiri. Ekspresi takjub di wajah mereka sulit dilupakan, seperti menemukan mainan baru yang ternyata berasal dari halaman belakang rumah mereka sendiri.
Puncaknya, pertunjukan digelar di Pavilium Tjilik Riwut, ruang terbuka yang menjadi titik temu berbagai kalangan di Palangka Raya. Pelajar, guru, pegiat seni, komunitas budaya, hingga warga biasa berkumpul. Setelah pertunjukan usai, diskusi spontan muncul.
Seseorang bertanya tentang ketahanan purun sebagai bahan boneka. Yang lain mempertanyakan apakah model ini bisa direplikasi di daerah lain. Ada juga yang menyampaikan keprihatinan tentang makin berkurangnya lahan gambut tempat purun tumbuh. Ruang dialog terbuka, dan Paper Puppet Purun tiba-tiba jadi lebih dari sekadar pertunjukan; ia menjadi pemantik percakapan tentang masa depan lingkungan.
Yang menarik, program ini tidak berhenti di atas panggung. Tim PISN juga menggelar pelatihan sinematografi, produksi konten digital, dan lokakarya pembuatan boneka untuk anggota mitra. Peserta diajari cara membuat boneka purun dari nol hingga cara merekam dan mengedit video pertunjukan.
Purun sendiri punya sejarah panjang dengan masyarakat Kalimantan Tengah. Tanaman yang tumbuh subur di lahan basah ini selama puluhan tahun menjadi bahan baku anyaman: keranjang, tikar, tas, topi. Namun seiring modernisasi dan masuknya produk plastik murah, kerajinan purun mulai ditinggalkan.
Generasi muda tidak lagi tertarik belajar menganyam. Purun tumbuh liar, tidak terurus, dan identitasnya sebagai bagian dari budaya lokal perlahan memudar.
Dengan mengangkat purun ke atas panggung, Paper Puppet Purun memberikan kehidupan baru pada tanaman ini. Ia tidak lagi sekadar bahan anyaman yang usang, melainkan medium artistik yang penuh makna ekologis. Boneka-boneka purun di atas panggung berbicara tentang air, tanah, kebakaran, dan kehidupan yang bergantung pada keseimbangan alam.
Anak-anak yang menontonnya tidak mendapat ceramah lingkungan yang membosankan. Mereka mendapat cerita yang menyentuh, visual yang memukau, dan pengalaman yang menempel di ingatan.
“Saya baru tahu kalau purun bisa jadi begini,” “Biasanya Ibu saya cuma pakai buat bikin tikar. Tapi ternyata bisa jadi boneka yang bagus,” kata seorang siswi kelas satu di SDN 05 Bukit Tunggal usai menonton. Tangannya masih memegang boneka purun kecil yang diberikan setelah pertunjukan.
Kalimat sederhana itu, bagi Tim PISN, adalah kemenangan kecil yang bermakna besar. Karena di balik setiap pertunjukan, ada misi tersembunyi, yakni menumbuhkan kembali rasa memiliki terhadap alam dan budaya lokal. Paper Puppet Purun bukan hanya inovasi seni, tetapi juga strategi pendidikan yang menyusup lewat hiburan.
“Kami berharap Paper Puppet Purun bisa jadi model yang direplikasi, bukan hanya di Kalteng, tapi juga di daerah lain yang punya kekayaan alam serupa,” “Setiap daerah punya ‘purun’-nya sendiri. Tinggal bagaimana kita menghidupkannya kembali dengan cara yang relevan,” kata Nawung.
Dari lahan gambut yang sunyi, purun naik ke panggung yang riuh. Dan dari panggung itu, ia pulang ke tangan anak-anak, membawa serta cerita tentang tanah, air, dan masa depan yang masih bisa diselamatkan. (Nawung Asmoro Girindraswari)