Hari Orangutan Sedunia 2026, Yayasan BOS Serukan Aksi Nyata Jaga Hutan
- 19 Agt 2026 15:34 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) bersama Kementerian Kehutanan merilis ajakan aksi nyata dalam memperingati Hari Orangutan Sedunia, Rabu, 19 Agustus 2026. Peringatan tahun ini mengusung tema Act for Orangutans: Their Forest, Our Future untuk memperkuat perlindungan habitat satwa dilindungi tersebut.
Agenda tahunan ini turut mengikutsertakan BKSDA Kalteng, BKSDA Kaltim, Taman Nasional Sebangau, hingga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Seluruh pihak menyoroti peran krusial orangutan sebagai penyebar biji alami yang menjaga daya regenerasi ekosistem hutan Indonesia.
Kepala BKSDA Kalteng, Andi Muhammad Kadhafi, menegaskan bahwa masa depan kelestarian orangutan sangat ditentukan oleh komitmen dan penegakan hukum hari ini. Pihaknya terus memacu program rehabilitasi serta mitigasi konflik satwa dengan warga setempat di lapangan.
“Hari Orangutan Sedunia mengingatkan kita bahwa masa depan orangutan sangat ditentukan oleh tindakan yang kita ambil hari ini. Upaya penyelamatan, rehabilitasi, penanganan konflik manusia dan orangutan, serta penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar merupakan bagian dari tanggung jawab yang terus kami jalankan bersama berbagai pihak,” ujar Andi Muhammad Kadhafi, seperti dikutip dari keterangan resmi yang didapat RRI Palangka Raya.
Namun, dikatakan Andi keberhasilan konservasi tidak akan tercapai tanpa dukungan masyarakat. Setiap langkah untuk menjaga hutan, menghentikan perdagangan satwa liar, dan menghormati keberadaan orangutan di habitat alaminya merupakan kontribusi nyata bagi masa depan keanekaragaman hayati Indonesia.
Senada dengan hal tersebut, Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, menggarisbawahi pentingnya pemulihan habitat dan pengelolaan bentang alam secara berkelanjutan. Menurutnya, perlindungan hutan sebagai rumah orangutan secara otomatis menjaga fungsi ekologis yang menopang kehidupan manusia.
“Orangutan hanya dapat bertahan apabila hutan tempat mereka hidup tetap terjaga. Oleh karena itu, perlindungan kawasan konservasi, pemulihan habitat, dan pengelolaan bentang alam secara berkelanjutan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya konservasi,” kata M. Ari Wibawanto.
Ia juga mengatakan tema Their Forest, Our Future mengingatkan bahwa ketika menjaga hutan sebagai rumah orangutan, pada saat yang sama manusia juga menjaga fungsi ekologis yang menopang kehidupan mereka, baik hari ini maupun di masa mendatang.
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan BOS, Jamartin Sihite, mengingatkan bahwa proses rehabilitasi hingga pelepasliaran satu individu orangutan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Pihaknya mendesak seluruh elemen masyarakat untuk tidak sekadar peduli, tetapi berani mengambil aksi nyata dalam menghentikan kerusakan hutan.
“Tema ACT FOR ORANGUTANS: Their Forest, Our Future bukan sekadar slogan. Ini adalah panggilan untuk bertindak, karena masa depan orangutan ditentukan oleh keputusan yang kita ambil hari ini. Setiap pohon yang tetap berdiri, setiap hutan yang kita lindungi, dan setiap orangutan yang kembali hidup bebas adalah hasil dari aksi nyata, ilmu pengetahuan, dedikasi, dan kolaborasi," ucap Jamartin Sihite, menegaskan.

Ia melanjutkan, di Yayasan BOS, pihaknya menyaksikan bahwa menyelamatkan satu individu orangutan bukan lah pekerjaan mudah. "Dibutuhkan bertahun-tahun untuk memulihkan mereka dari konflik dan mengembalikan mereka ke alam," ujarnya menambahkan.
Peringatan ini menjadi momentum penting untuk memperluas jejaring kolaborasi bersama mitra konservasi internasional dan donor global. Dukungan berkelanjutan dari masyarakat luas diharapkan dapat menjamin keberlangsungan program pelepasliaran orangutan di habitat alaminya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....