Petani Kalimantan Tengah Antisipasi Dampak Kemarau Panjang
- 27 Apr 2026 16:19 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Fenomena El Nino yang ditandai pemanasan suhu muka laut di atas normal di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur diperkirakan memengaruhi musim kemarau tahun ini di Kalimantan Tengah. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan curah hujan dan berdampak pada sektor pertanian, terutama ketersediaan air serta meningkatnya risiko kebakaran lahan.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim kemarau di Kalimantan Tengah dimulai pada akhir Mei 2026, dengan puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga Agustus. Dampak kondisi ini dinilai perlu diantisipasi para petani sejak dini melalui pengelolaan air dan penyesuaian pola tanam.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, Chandra Mukti Wijaya, menjelaskan El Nino tahun ini diprediksi berada pada kategori lemah hingga moderat, namun tetap dapat memicu berkurangnya curah hujan dan meningkatkan potensi kekeringan. Ia juga mengingatkan wilayah selatan dan tenggara Kalimantan Tengah rawan karhutla karena didominasi lahan gambut.
"BMKG memprediksi musim kemarau dimulai sekitar akhir bulan Mei dan puncaknya pada Juli hingga Agustus di wilayah Kalimantan Tengah. Potensi kekeringan cukup besar sehingga pengairan perlu diperhatikan, termasuk pembuatan embung atau sumur air," ujarnya, Senin, 27 April 2026.
BMKG juga telah menyiapkan sistem peringatan dini cuaca dan kebakaran hutan lahan yang dapat diakses masyarakat melalui laman resmi maupun aplikasi Info BMKG. Informasi tersebut diharapkan membantu petani menentukan langkah antisipasi menghadapi musim kering.
Sementara itu, Petani semangka di Kelurahan Pager, Kecamatan Rakumpit, Kota Palangka Raya, Akbar, mengatakan kondisi lahan pertaniannya saat ini masih relatif aman karena cadangan air di parit dan kolam masih mencukupi. Namun pihaknya tetap menyiapkan langkah antisipasi apabila kekeringan ekstrem benar-benar terjadi.
"Kalau bagi kami yang pertama bibit, karena bibit semangka sekarang mahal dan langka. Kemudian bantuan pompa air juga penting, karena saat kemarau penyiraman harus rutin, sementara BBM sekarang susah dan harganya mahal," ucapnya
Petani berharap pemerintah dapat membantu penyediaan bibit, pompa air, serta dukungan bahan bakar agar produksi pertanian tetap berjalan di tengah ancaman kemarau panjang akibat El Nino. (Hesa)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....