Mengenal Makna Menjadi Wali Allah
- 13 Mar 2026 18:02 WIB
- Palangkaraya
RRI.CO.ID, Palangka Raya - Dalam ajaran Islam, istilah wali Allah sering dipahami sebagai sosok yang dekat dengan Allah karena ketakwaan dan ketaatannya dalam menjalankan perintah agama. Untuk mencapai derajat tersebut, seorang muslim dituntut untuk menjalankan kewajiban agama secara konsisten serta menjauhi segala larangan-Nya.
Hal ini disampaikan oleh Dr. Abdullah, M.Pd.I, dosen UIN Palangka Raya, dalam program Hikmah Ramadan yang disiarkan oleh Pro 1 RRI Palangka Raya, Jumat 13 Maret 2026. Menurut Abdullah, seseorang tidak mungkin menjadi wali Allah jika masih mengabaikan kewajiban utama dalam agama, seperti salat lima waktu.
“Segala kewajiban itu apabila kita laksanakan, Allah sangat senang. Jangan sampai kewajiban itu dilalaikan, misalnya salat lima waktu harus dikerjakan secara lengkap dan tidak bolong-bolong. Jika kewajiban ini saja tidak dijaga, maka sulit bagi seseorang untuk menjadi wali Allah,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa selain menjalankan kewajiban, seorang muslim juga harus menjauhi sifat-sifat buruk seperti dengki terhadap orang lain. Sifat tersebut dapat merusak amal ibadah dan menjauhkan seseorang dari kedekatan dengan Allah.
“Kalau seseorang ingin menjadi wali, maka laksanakan segala kewajiban seperti salat, puasa, dan zakat. Kemudian apa yang dilarang Allah juga wajib kita tinggalkan,” katanya.
Abdullah menambahkan, ibadah juga harus dilakukan dengan niat yang ikhlas semata-mata karena Allah. Jika seseorang melakukan kesalahan atau terjatuh dalam dosa, maka dianjurkan untuk segera bertaubat.
| Baca juga: Puasa Ramadan, Jalan Menuju Ketakwaan Sejati |
“Jika kita terperosok dalam kesalahan, segera bertaubat kepada Allah. Insyaallah Allah mencintai hamba-Nya yang melaksanakan kewajiban dan kembali kepada-Nya,” ucapnya.
Selain kewajiban, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunah dan melaksanakannya secara istiqamah. Salah satu contoh amalan yang sangat dianjurkan adalah salat rawatib yang hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi Muhammad SAW.
“Para ulama mengatakan setelah kewajiban dilaksanakan dengan baik, maka amalan yang utama adalah kesunahan yang sangat dianjurkan, seperti salat rawatib. Ini merupakan bentuk kesungguhan dalam mendekatkan diri kepada Allah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Abdullah menjelaskan bahwa dalam pemahaman ulama terdapat tiga tingkatan menuju kedekatan dengan Allah atau menjadi wali Allah.
Tingkatan pertama adalah seseorang yang menjalankan kewajiban tanpa memiliki perencanaan khusus untuk mencapai kedudukan tersebut. Tingkatan kedua disebut murid, yakni orang yang memiliki keinginan kuat untuk dicintai Allah dan berusaha keras menjalankan kewajiban serta menjauhi larangan-Nya.
Sedangkan tingkatan ketiga adalah makrifatullah, yaitu kondisi ketika seseorang telah mengenal dan sangat dekat dengan Allah karena kesungguhan dalam beribadah dan menjaga ketakwaan. Ia juga menekankan pentingnya menuntut ilmu agama agar seorang muslim mengetahui apa saja kewajiban yang harus dilakukan serta larangan yang harus ditinggalkan.
“Karena itu kita perlu belajar dan menuntut ilmu, mengetahui apa saja yang diwajibkan kepada kita dan apa saja yang dilarang oleh Allah. Dengan ilmu itulah seseorang dapat istiqamah dalam menjalankan ibadah,” katanya.
Abdullah berharap umat Islam dapat menjadikan momentum Ramadan untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah. Dengan membiasakan diri melakukan amal ibadah secara konsisten, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....