Nostalgia Ramadan: Kenangan Masa Kecil yang Selalu Dirindukan

  • 28 Feb 2026 10:18 WIB
  •  Palangkaraya

RRI.CO.ID, Palangka Raya - Ramadan bukan sekadar bulan menjalankan ibadah puasa, bagi banyak masyarakat muslim Indonesia, bulan suci ini adalah gudang memori masa kecil yang tak lekang oleh waktu. Mulai dari riuhnya suara bedug menjelang magrib, kompetisi kecil-kecilan di sela waktu mengaji sore hari atau sebelum berbuka, hingga momen sederhana menerima uang saku untuk membeli takjil di pasar wadai.

Dulu, menunggu waktu berbuka terasa begitu lama. Anak-anak bermain sepeda di sore hari atau duduk di teras rumah sambil memperhatikan langit yang perlahan berubah warna. Ketika azan magrib berkumandang, segelas sirup manis terasa begitu istimewa. Kesederhanaan justru menghadirkan kebahagiaan yang utuh.

Malam Ramadan pun penuh cerita. Berjalan kaki ke masjid bersama teman sebaya, bercanda di sela-sela tarawih, hingga tertidur di pangkuan orang tua setelah lelah bermain. Momen-momen kecil itu membentuk pengalaman spiritual pertama yang hangat dan menyenangkan.

Seiring bertambahnya usia, cara menjalani Ramadan mungkin berubah. Tanggung jawab semakin banyak, waktu terasa lebih singkat. Namun kenangan masa kecil tetap hidup dan sering kali menjadi alasan mengapa Ramadan selalu terasa berbeda dibanding bulan lainnya.

Ramadan bukan hanya soal rutinitas ibadah tahunan, melainkan tentang warisan kenangan kolektif yang terus dibagikan dari satu generasi ke generasi berikutnya, menjaga agar ruh Ramadan tetap hangat di hati setiap insan.

Sisi Ilmiah di Balik Nostalgia

Secara psikologis, kerinduan akan masa kecil ini memiliki landasan ilmiah yang kuat. Berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa nostalgia atau mengingat memori indah masa lalu berfungsi sebagai filter pelindung mental yang mampu menurunkan hormon stres (kortisol) dan memicu pelepasan dopamin di otak.

Seperti penelitian pionir dari Dr. Constantine Sedikides dan koleganya dari University of Southampton mengenai nostalgia sebagai fungsi psikologis (filter pelindung mental) yang mulai dipublikasikan secara luas pada tahun 2006. Proses mengenang sesuatu yang baik ini tidak hanya membangkitkan kebahagiaan sesaat, tetapi juga memperkuat ketahanan emosional seseorang dalam menghadapi tekanan hidup di masa dewasa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....